Friday, February 26, 2016

5 Makanan Ini mengingatkan Saya Pada Kota Kembang

5 Makanan Ini mengingatkan Saya Pada Kota Kembang

Tak terpikir pun di benak saya akan tinggal untuk sementara waktu di Bandung. Yang terpikirkan saat lulus SMA adalah ingin kuliah di Jurusan Psikologi atau Bahasa Inggris, dan kalau bisa di luar kota hehe. Ya, rasanya ingin sekali mendapat pengalaman baru di luar kota, ingin tahu dunia lain di luar kota saya. Sayangnya hasil ujian UMPTN saya gagal semua dan saya bingung akan ngapain. Begitulah kalau hanya punya satu rencana. Seharusnya saya memiliki plan B sebagai antisipasi dan dapat segera mengambil keputusan saat plan A gagal. Jangan dicontoh ya dik!

Dalam kebingungan, bapak mengusulkan untuk mencoba mendaftar di sebuah politeknik negeri di Bandung. Setelah mengikuti tes seleksi, Alhamdulillah saya lulus dan horeeee…jadi mahasiswi, walaupun di jurusan yang membayangkannya pun saya tak tahu akan menghadapi apa. Jurusan Administrasi Bisnis. Yang penting bisa kuliah dan membahagiakan orangtua.

Hari-hari sebagai mahasiswi di kota kembang1 pun saya jalani. Tiga tahun kuliah di politeknik dan tinggal di sebuah desa di Bandung utara, dua tahun kuliah S1 dan tinggal di daerah Dago, telah menorehkan berbagai kenangan tentang Bandung baik yang manis maupun yang pahit. Baik tentang percintaan dan pertemanan, perkuliahan dan jalan-jalan ke tempat menarik di bandung, pengalaman spiritual dan lainnya.


Saya ingin menceritakan hal yang menyenangkan saja yang saya ingat dari kota kembang ini, yaitu… makanan enak! Ya, saya ini termasuk orang yang kurung batok, istilah dalam bahasa sunda yang artinya kurang pengalaman hidup. Yang saya tahu tentang makanan enak itu adalah sayur asem bikinan ibu, tempe goreng bikinan ibu, sayur singkong (juga) bikinan ibu, sayur kacang merah bikinan ibu, dan surabi serta gorengan bikinan tetangga di kampung.

Bergaul dengan teman yang suka makan, suka jalan, dan pengetahuan kulinernya lebih banyak, membuat saya jadi tahu, “Ada loh makanan enak selain makanan buatan ibu dan tetangga”, “Ini loh kuliner dari Bandung”, dan sebagainya. 

Ini adalah daftar makanan yang mengingatkan saya pada kota kembang:

  1. Surabi dengan berbagai toping
serabi Enhai
Surabi Enhai ini snack saat acara woman Talk di Jakarta tahun lalu

Sekitar tahun 2000-an awal (saya lupa tepatnya), sedang hangat-hangatnya pembicaraan tentang satu kedai makanan yang menjula surabi dengan berbagai toping. Letaknya tak jauh dari tempat kuliah dan kost saya. Namanya surabi Enhai, karena terletak di depan sekolah pariwisata Enhai (sebenarnya NHI, Cuma gak tahu dibacanya jadi Enhai). 

Beberapa kali saya lewat kedai tersebut dan terlihat antrian yang sangat panjang. Ah, males banget rasanya mengantri berjam-jam untuk satu makanan yang akan hilang dalam hitungan menit, pikir saya. Sampai suatu saat teman satu kost (dalam satu rumah kost kami yang kecil, ada 3 orang termasuk saya) yang mau jalan-jalan sama pacarnya dan membeli surabi Enhai, menawarkan diri untuk membelikan surabi Enhai. Ah, kebetulan atuh kalo gitu, saya dan teman saya yang satu lagi pun nitip untuk dibelikan surabi sama dia. Kami memesan surabi dengan toping berbeda supaya bisa saling mencicipi.

Saat sang teman pulang, kami bertiga menikmati surabi tersebut dengan sukacita. Surabi Enhai dilengkapi dengan berbagai toping seperti oncom pedas, coklat keju, pisang coklat, sosis, telur, dan yang lainnya. Saya pesan yang paling murah yaitu oncom pedas dan coklat keju. Enak lah pokoknya, apalagi kalau dimakan hangat-hangat.

surabi
Kalau ini surabi ala kampung halaman saya, dimakan dengan gorengan

Melihat makanan bernama surabi ini, Saya pun jadi ingat dan kangen sama kampung halaman di Kuningan. DI kampung saya, surabi dimakan dengan gorengan macam-macam seperti bakwan, cireng, dan comro. Tiap pagi setelah shalat Subuh, ibu saya membeli surabi dan gorengan di tetangga samping rumah untuk teman ngopi atau ngeteh. Surabi mengingatkan saya pada cinta ibu untuk keluarganya.

Sekarang surabi Enhai udah ada dimana-mana, tak hanya di Bandung. Saat saya mengikuti sebuah acara talkshow dimana Irma Rahayu sebagai narasumbernya, di Jakarta tahun lalu, snack-nya ternyata surabi Enhai. Ya ampuuun, kita ketemu lagi ya. Bagus lah, kuliner Bandung makin dikenal. Bahkan, surabi merupakan 1 dari 30 makanan khas Indonesia yang wajib diajarkan di seluruh sekolah pariwisata di Indonesia! Good, good.

  1. Nasi merah
Pertamakali saya mencoba nasi merah ya di Bandung, dikenalin sama Tuti, teman dari satu kota yang sama, SMA yang sama, kampus yang sama, dan sama-sama merantau di Bandung. Senangnya berteman dengan Tuti ini orangnya semangat, antusias, kalau bicara cepat, dan senang tertawa. Orang yang cepat ‘memble’ kayak saya jadi terpacu lagi semangatnya kalau ada dia.

Suatu hari Tuti mengajak saya menikmati satu kuliner yang cukup terkenal di Bandung, yaitu nasi merah. Salah satu kedai penjual nasi merah dan lauknya yang cukup terkenal adalah yang berlokasi depan Mesjid Istikomah Bandung. Tuti menceritakannya dengan mata berbinar dan saya pun termakan rayuannya.

nasi merah
Ini salah satu menu di rumah beberapa waktu lalu: nasi merah, tumis kangkung, ikan dan tempe goreng

Sampai di lokasi, saya mengikuti Tuti, memesan nasi merah yang dibungkus daun (daun pisang apa jati ya? Lupa, maaf). Lalu kami mengambil lauknya yaitu ayam goreng, sambal dan lalap. Begitu disuap, terasa aneh nasi merah ini di mulut saya. Maklum saya baru pertamakali coba. Rasanya pera, keras, susah ditelan. Tapi melihat Tuti yang begitu antusias, saya tentu tak mau mengecewakannya. Saya lupa, apa saya menghabiskan nasi merah tersebut atau tidak. Yang teringat di kepala, ya rasanya itu.

Ternyata di kemudian hari saya bantu suami jualan nasi merah yang dipasok dari sebuah pabrik beras di Subang. Ya, paling asik memang jualan barang yang sudah kita kenal rasa dan manfaatnya, Jadi lebih enak menyampaikan kualitas barang sama konsumen. Anehnya, beras merah yang saya jual itu rasanya pulen seperti nasi putih biasa (terutama kalau takarannya pas). Za dan Ra pun mau saja saya suapi nasi merah. 

Pada saat lain, suami membeli nasi merah di supermarket. Rasanya mirip dengan yang saya makan sewaktu di Bandung, pera, keras. Saya jadi berfikir, kok bisa beda ya? Apa yang menyebabkan nasi merah beda rasanya, yang satu pulen dan satunya tidak? Apakah organik dan tikak organik bisa mempengaruhi rasa? Ah saya tidak tahu dan harus mencaritahu jawabannya.

  1. Piscok
Piscok itu singkatan dari pisang coklat, makanan yang terbuat dari kulit lumpia diisi pisang dan coklat. Lagi-lagi, seorang teman satu kost yang mengenalkan. Pulang dari jalan-jalan, dia selalu membawa oleh-oleh makanan yang tak lupa ditawarkan sama teman satu kost-nya. Salah satunya adalah piscok. Saya pun bertanya sama dia, “Belinya dimana?”. Di Gerlong, jawabnya. Gerlong itu adalah nama jalan, singkatan dari gegerkalong. Jalan gerlong ada dua sebenarnya, satu menuju pesantren Daarut Tauhid-nya Aa Gym, satu lagi menuju kampus Politeknik Negeri Bandung. Nah, Jalan Gerlong yang dimaksud adalah Jalan Gerlong menuju kampus politeknik.

sumber

Sejak itu, kalau kebetulan lewat Jalan Gerlong, saya tak lupa mampir ke gerobak penjual piscok yang dimaksud teman saya. Kadang saya beruntung mendapat piscok yang masih hangat dengan lumeran gula di kulit lumpianya. Kadang juga hanya tinggal beberapa piscok saja yang tersisa dengan kondisi dingin.

Oh ya, selain piscok, juga ada nascok. Hehe ini sih saya yang ngasih nama. Nascok itu kulit lumpia yang isinya nanas. Ehmm, enaaak. Rasa asam nanas berpadu dengan manisnya gula pasir dan renyahnya kulit lumpia. Kalau nascok masih tersedia, saya pasti membeli beberapa. Sekarang penjual piscok itu masih ada atau tidak, saya kurang tahu.

Entah bagaimana awalnya, ibu di rumah juga jadi suka bikin piscok. Bedanya, ibu menaruh gula pasir hanya di dalam bagian lumpia sehingga bagian luar kulit lumpia tidak lengket setelah digoreng karena gula pasir yang meleleh. Ibu sering bikin banyak sekalian. Sambil menunggui warung, dia membungkus pisang dan coklat dengan kulit lumpia, satu-satu. Lalu ditaruhnya di kulkas, kalau mau dihidangkan tinggal goreng. Saat berkunjung ke rumah setelah saya menikah, Ibu juga sering membekali piscok mentah. 

Ah, kenapa semua makanan enak itu ada kaitannya dengan ibu ya.

  1. Tumis cuciwis
Aih, cuciwis kan sayuran biasa yang bisa didapat dimana saja. Ya, saya malah tak tahu cuciwis sampai saya dikenalkan sama sayuran ini oleh (lagi-lagi) Tuti. Saat itu kita tinggal satu kost dan ingin mencoba masak sendiri. Terus terang, dari dulu sampai sekarang saya gak jago masak. Di rumah orangtua, saya seringnya kebagian tugas jaga warung saat ibu masak. Jadilah, saya ini anak gadis yang minim pengetahuan tentang jenis-jenis makanan.

sumber

Tutilah yang beinisiatif memasak menu tumis cuciwis dan tempe goreng. Saat lihat daun cuciwis ini di tukang sayur dekat kost-an, saya sempat heran dan bertanya-tanya. Daun apaaa ini, mirip sawi tapi mungil.

Di tempat kost, daun cuciwis ini ditumis sama Tuti dengan bawang, garam dan minyak sedikit saja tanpa ditambahi air. Setelah siap, saya, Tuti dan teman-teman lain pun makan. Aih, enak yah ternyata tumis daun cuciwis ini. Rasanya renyah, seperti terdengar bunyi ”kres’kres” gitu saat memakannya. Ya Allah, nikmat sekali makan sederhana kami saat itu. Nasi putih hangat, tumis cuciwis dan tempe goreng. Alhamdulillah. Sejak itu, kalau melihat daun cuciwis, saya jadi ingat Tuti yang mengenalkannya pertamakali. Namun rasanya saya belum juga bisa memasak daun cuciwis serenyah buatan Tuti.

  1. Nasi Lengko
Ih, bukannya nasi lengko itu makanan khas Cirebon? Iya sih, tapi saya baru benar-benar menikmati nasi lengko saat di Bandung. Kok bisa? Iya, ceritanya, saya, Za dan Ra menyusul ayahnya Za dan Ra yang lagi dinas di Bandung. Pagi-pagi berangkat dari Bintaro, kami sampai Bandung siang hari dan langsung ke hotel tempat ayahnya Za dan Ra menginap. 

sumber

Sudah lewat waktu makan siang, kami masih saja di hotel. Za dan Ra sudah berceloteh saja minta makan. Akhirnya kami keluar hotel, berjalan menyusuri Jalan Dago untuk mencari tempat makan. Kami sampai pada sebuah tempat makan ala food court bernama The Kiosk. Satu persatu gerobak makanan di The Kiosk kami datangi. Duuh, kalau udah lihat banyak menu suka bingung sendiri. Akhirnya, suami memesan nasi lengko. Entah apa pertimbangannya, mungkin diet, mungkin murah, atau lebih terjamin kehalalannya. Sedih ya bicara halal, di negeri mayoritas muslim ini kita masih khawatir saja tentang kehalalan makanan yang kita makan.

Tak mau pusing, saya pun memesan menu yang sama untuk Za dan Ra. Ajaibnya, dua anak ini mau saja disuapi nasi lengko. Padahal biasanya gado-gado saja tidak mau. Mungkin karena lapar tingkat tinggi yang menjadikan Za dan Ra menikmati makanan apapun di depan mereka. Ya, kelaparan seringkali membuat kita bersyukur atas semua makanan, sesederhana apapun itu.

Saya juga rasanya menikmati benar nasi lengko itu. Menu sehat yang terdiri dari nasi putih, sayuran, tahu, tempe, diguyur sambal kacang dan dilengkapi kerupuk itu benar-benar lezat. Mungkin yang membuat enak itu adalah bumbunya, selain rasa lapar. Di komplek rumah saya ada ibu-ibu yang menjual gado-gado enak. Saya dan suami sering langganan sama dia. Saya sering melihatnya menambahkan kentang rebus dalam ulekan sambal kacangnya. Mungkin itu yang membuat sambal kacang buatanya jadi enak. Tapi, lagi-lagi saya belum bisa membuat sambal kacang seenak ibu itu kalau membuat gado-gado sendiri di rumah. Kata orang, lain tangan yang membuat satu makanan, lain pula rasanya.

Itulah 5 makanan yang mengingatkan saya pada Kota Kembang. Bagaimana dengan sahabat? Adakah kenangan tentang kota ini? Mari kita saling bertukar cerita. 




 Keterangan:
  1. Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1896 saat Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama. Sebagai panitia kongres, Tuan Jacob mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa noni cantik Indo-Belanda dari wilayah perkebunan Pasirmalang untuk menghibur para pengusaha gula tersebut.

29 comments :

  1. Kalau surabi, saya tetep cuma suka yang pakai saus kinca. Jadi pengen surabi, ih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy baru niatnya aja bikin sendiri d rumah :)

      Delete
  2. Kl di kampung saya Kuningan surabi dimakan sama pia-pia mak. Alias bakwan :D

    ReplyDelete
  3. Duuh surabi, enaknya makanan ini

    ReplyDelete
  4. wah naksir sama piscoknya sama tumis cuciwis

    ReplyDelete
  5. surabi asli bandung memang tiada duanya hihihi

    ReplyDelete
  6. Aku juga doyan tumis cuciwis itu. Wah, Tuti apa kabarnya, ya? Udah lama ga say atau chit chat. Dunia maya bikin dunia nyata terasa sempit. Tuti emang rame, asik orangnya. Padahal baru ketemu sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuti tinggal di cirebon sekarang mak sama keluarganya

      Delete
  7. Di Bandung juga ada nasi merah tow kak? tak kira cuman ada di Gunungkidul aja ew,,, hehehe,,, eh Piscok ama Lumpia berarti beda ya? Nasi Lengko bolehlah di coba jika ke Bandung :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. piscok itu kulit lumpia diisi pisang dan coklat. ada, yg terkenal di depan mesjid istikomah dan daerah punclut

      Delete
  8. Replies
    1. cilok biasanya malah kalo pulkam saudara saya bikin sendiri

      Delete
  9. Waaaah.... jadi pengen Surabi Enhai. Hehehehe.... makasih udah ikutan GA saya. :)

    ReplyDelete
  10. Surabi Enhai enak itu sepertinya
    Salam kenal ya mbak :)

    ReplyDelete
  11. Halo Mak Kania, boleh saya minta alamat pengiriman hadiahnya? Kirim ke email saya niaharyanto@gmail.com, ya. Tulisan ini menang di GA saya. Terima kasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya baru ngeh mak, maaf ya, done ya udah dikirim via email

      Delete
  12. Nasi merah itu terbuat dari apa ya mbak, dari ubi bukan ya mbak ?

    ReplyDelete
  13. Bandung memang kota yang tidak akan terlupakan mba. Nice artikel.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...