Monday, July 11, 2016

Merayakan Idul Fitri di Kaki Gunung Ciremai


gunung ciremai
Pemandangan Gunung Ciremai dari depan rumah

Lebaran kali ini aku rayakan di rumah orangtuaku, sementara tahun kemarin di rumah mertuaku. Aku lahir dan besar di sebuah desa di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.Udara di desaku relatif segar karena katanya terletak di kaki gunung.  Dari desaku, Gunung Ciremai terlihat gagah berdiri. Kadang warnanya hijau, kadang juga biru. Gunung ini masuk ke dalam 2 wilayah kabupaten yaitu Kuningan dan Majalengka, serta termasuk gunung tertinggi di Jawa Barat.

Aku tiba empat hari sebelum lebaran. Kalau sudah tiba di rumah orangtuaku, bisa dipastikan jadi “mager” alias malas gerak. Pertama, lagi puasa dan udaranya adem, jadi ingin bobo terus. Kedua, aku tidak bisa naik motor dan kendaraan umum yang lewat depan rumah hanya ojek. Itu pun aku tidak tahu harus memanggil ojek dari mana. Kalau ingat hal ini, jadi teringat betapa beruntungnya yang hidup di kota dimana semua fasilitas umum bisa dengan mudah didapat, ojek aja tinggal pesan lewat smartphone.

raissa rahmania
Ra dan sepupu, kakak Azka

Tentu saja aku harus melawan rasa malasku. Aku mengajak Za dan Ra main di rumah sepupu mereka. Menyenangkan anak-anak mah tidak susah, asal ada teman main mereka seneng banget. Apalagi, Za dan Ra jarang bertemu sepupu mereka. Dari rumah, mereka sudah antusias ketika kuberitahu akan bertemu sepupu mereka. Pangling deh, ketemu para keponakan. Dulu ada yang masih bayi, sekarang udah batita. Dulu batita, sekarang balita. Dulu anak kecil, sekarang udah mau abege. Betapa cepatnya waktu dan aku pun diingatkan, aku pun tak lagi muda.

Sama seperti di belahan daerah lain di Indonesia, di kampung halamanku ini ada beberapa tradisi dalam menyambut hari raya Idul Fitri, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Mudik

Jika tak ada halangan yang berarti, aku selalu menyempatkan mudik lebaran baik ke rumah orangtuaku maupun rumah mertua. Seingatku, hanya sekali aku tidak mudik yaitu ketika Ra dilahirkan beberapa hari menjelang Idul Fitri. Dan aku merasa kesepian sekali saat itu, jauh dari keramaian dan kegembiraan keluarga besar yang berlebaran di kampung halaman. 

fundoh
Biar anteng di jalan, Ra bawa mainan

Jadi, buatku mudik yang setahun sekali ini penting untuk menghangatkan kembali hubungan keluarga dan merasakan kebersamaan di hari raya. Dan aku pun rela bersabar karena macet di jalan untuk hal ini. Untunglah, mudik kali ini aku tidak berpapasan dengan macet yang parah karena mengambil waktu yang pas untuk arus mudik dan arus balik.

Awalnya, aku pikir lebaran kali ini akan sempat menulis di blog. Tinggal #4GinAja menggunakan MiFi smartphone yang kupunya, akses internet diperleh dengan lancar jaya. Ternyata sama sekali aku tidak menulis blog saat mudik karena aku ingin menghabiskan waktu ngobrol dengan keluarga tercinta yang hanya setahun sekali kutemui. Aku hanya sempat mengupdate media sosial saja untuk sharing kebahagiaanku mudik tahun ini.

2. Menyediakan kue-kue serta ketupat dan lauknya 

Sehari menjelang lebaran, ibuku sudah membeli kulit ketupat. Ibuku tidak memasak sendiri. Ia minta tolong saudaranya untuk dimasakkan ketupat. Ibu juga memesan sambal goreng kentang sama saudara. Ibu tinggal memasak opor ayam dan rendang daging saja. Kerupuk udang dan emping pun sudah digoreng jauh-jauh hari. Hal ini bisa menghemat tenaga agar tetap bugar di hari raya. Sementara itu, kue-kue lebaran diperoleh ibu dari warung miliknya dan dari kiriman relasi dan kerabat.
ketupat idul fitri
Ketupat dan teman-temannya

kue lebaran
Sebagian kue lebaran

Buka puasa terakhir, aku sudah menikmati ketupat dan lauknya. Ya Allah, nikmatnyaaa setahun sekali menikmati ketupat bersama keluarga. Za juga ternyata senang sekali makan ketupat. Sebaliknya dengan Ra, dia tidak terlalu suka dengan ketupat. Mungkin kalau kupotong ketupatnya lebih kecil lagi, Ra akan suka.

3. Obor-oboran

Selepas Magrib saat malam Idul Fitri, takbir mulai berkumandang bersahut-sahutan dengan suara petasan. Aku sempat terganggu dengan suara petasan dan kembang api yang mengganggu kesyahduan suara takbir. Untungnya, suara petasan dan kembang api tidak datang semalaman.

Selepas isya, anak-anak madrasah (sekolah agama) dan pemuda pemudi desa berkeliling kampung dengan membawa obor dan bertakbir. Menurutku ini tradisi yang bagus serta hiburan yang positif dan berpahala. Pada sebagian anak yang tak bisa duduk diam di masjid untuk bertakbir, mungkin akan jadi pilihan bijak dengan ikut keliling kampung menyuarakan takbir dan mengagungkan nama Allah SWT.

pawai obor idul fitri
pawai obor-oboran keliling kampung sambil bertakbir

4. Saling Memberi angpao dan hantaran makanan  

Sebenarnya, waktu aku kecil rasanya aku tidak pernah menerima amplop berisi uang (angpao) di hari raya Idul itri. Keadaan ekonomi waktu dulu mungkin tidak sebaik sekarang. Orang-orang sudah semakin makmur dan semakin besar keinginan untuk membahagiakan saudara. Biasanya yang diberi angpao anak-anak saja. Za dan Ra pun tak luput menerima angpao dari beberapa saudara. Alhamdulillah. Sementara itu, hantaran makanan biasanya diberikan oleh yang muda pada orang yang lebih tua

5. Ziarah kubur selepas hari raya sekaligus silaturahim dengan orang sekampung

Ziarah kubur dan silaturahim termasuk ajaran agama yang sudah menjadi tradisi di hari raya Idul Fitri. Sebenarnya, ziarah dan silaturahim bisa dilakukan kapan saja dan tidak terbatas hari raya. Mungkin, momen berkumpulnya seluruh anggota keluarga dimanfaatkan orang-orang untuk ziarah ke kuburan keluarga sekaligus silaturahim dengan warga sekampung yang berpapasan di jalan.

Jalanan sepulang dari kuburan

Desaku mempunya satu pekuburan umum. Semua orang selepas Idul Fitri datang ke keburan. Mereka saling bersalaman dan bermaafan ketika bertemu di jalan menuju dan sepulang dari kuburan. Jadi, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Sekali jalan mau ziarah kubur, sekalian bersilaturahim dengan tetangga.

Itulah 5 tradisi merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halamanku di kaki Gunung Ciremai. Bagaimana dengan tradisi di daerahmu, sahabat?


keluarga biru
 


20 comments :

  1. anak2ku baru kali ini nerima angpao, walau gk tau itu apaan, suka liat ekspresi gembiranya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, anak2 juga terima angpao trus dikasiin ibunya dan mereka pergi main lagi

      Delete
  2. Replies
    1. Kayanya beberapa tahun ini
      Dihidupka lagi :)

      Delete
  3. menyenangkan ya kalau bsia lihat gunung ciremai apalagi pagi hari gak ada awan akan terlihat jelas sekali, makanya aku beli rumah di kuningan hanya biar bisa lihat gunung ciremai

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaah mba, kenapa kita ga ketemuan yaa

      Delete
  4. Lima tradisi ini Indonesia banget ya Mbak, makasih atas partisipasinya :-)

    ReplyDelete
  5. wah, kaki gunung Ciremai bikin aku de javu sama libur lebaran dua tahun lalu mbak, hiks..

    ReplyDelete
  6. teh, cara syarat yang ini piye yhow?
    Di akhir tulisan jangan lupa cantumkan kalimat: Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru dan pasang banner giveaway (foto paling atas tadi) dengan diberi link hidup ke postingan GA ini.....
    bisa kasih tau caranya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru

      Tulisan di atas di scroll, terus klik gambar rantai terus masukkan link lombanya.

      Kalo mau gambarnya yg aa link-nya, lihat di postingan saya yg ini: http://www.rumahmayakania.com/2014/10/membuat-gambar-ber-url-dalam-postingan.html

      Delete
    2. fanspage itu halaman lain di facebook. mm apa ya, kayak akun facebook biasa aja. ada tombol "like" nya. nah itu diklik

      Delete
    3. mba, aku dah coba caranya. boleh dilihat di my blog. opo kya gtu??
      hmmm, kta pemilik akun keluarga biru, like fanspage nya wajib, aku yhow ra iso buka sosmed kya gtu selain blog, hihihi

      Delete
  7. haduuh... ngeliat foto ketupat dan 'kawan2nya' jadi kangen sama ketupat, padahal baru kemaren lebaran hehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...