Wednesday, May 4, 2016

Kenali Alergi Sejak Dini, Supaya Si Kecil Tetap Berprestasi



alergi pada anak

Sewaktu kecil, saya ini sering sekali sakit. Untungya sih, belum pernah sakit sampai harus dirawat di rumah sakit. Setiap kali demam, bapak membawa saya ke dokter langganan, namanya Pak Jojo. Ada juga yang menyebutnya Pak mantri. Kata bapak, asal sudah dibawa ke Pak Jojo, insyaallah tak lama kemudian saya bisa sembuh.

Saya juga punya masalah kulit yang cukup mengganggu, dari kecil bahkan kadang-kadang sampai sekarang pun masih. Entah apa menyebut jenis penyakit ini, yang jelas di telapak tangan saya muncul gelembung-gelembung berisi nanah. Amih (panggilan saya buat ibu) menusuk gelembung itu dengan jarum agar nanah dan darah keluar, lalu mengolesi tangan saya dengan salep. Untuk beberapa saat saya tak bisa main dan hanya jongkok dengan tangan menengadah, sambil menonton anak-anak yang mau pergi ke sekolah (saat itu saya belum sekolah).

Saat usia SD sampai SMP, kulit muka saya diantara mata dan telinga sering lecet dan gatal. Kata bapak, saya alergi logam. Saya memang sudah memakai kacamata sejak kelas 4 SD. Bapak seringkali membelikan saya kacamata berbahan logam tertentu, mungkin kacamata berbahan plastik saat itu masih jarang di toko kacamata di kota kecil tempat saya tinggal. Saya suka melapisi bagian logam dengan selotip atau tissue supaya tidak menyentuh kulit langsung. Kalau sudah lecet dan gatal, saya lepas kacamatan sebentar untuk diolesi salep. Hal itu terus terjadi dan berkurang saat masa SMP.


alergi pada anak
Beberapa waktu lalu, Ra juga gatal-gatal kemerahan di dahi, punggung, perut, dan leher seperti tampak di gambar

Saat beranjak remaja, masalah alergi saya belum selesai. Saya ingat sekali, waktu SMP mungkin pertamakalinya saya makan udang goreng tepung. Amih membelinya dari tukang jualan udang di pasar. Waduuuh, rasanya nikmaaat banget. Saat saya dan amih jalan-jalan di pasar, saya pun langsung minta amih membelikan udang goreng tepung lagi begitu saya lihat ada penjual udang goreng tepung. Udang yang sudah digoreng warnanya kuning kecoklatan dan sudah dibungkus dengan plastik-plastik kecil. Saking nikmatnya, saya sampai makan banyak.

Tahu apa yang terjadi keesokan harinya? Wajah saya bengkak dan kemerahan! Kali ini orangtua saya bilang saya alergi makanan laut. Saat berangkat ke sekolah, semua orang di angkutan umum memandang wajah saya yang bengkak. Saat itu, tingkat kepercayaan diri saya menurun sangat drastis. Sebagai seorang remaja, tentu saya inginnya tampil menarik dong di depan teman-temannya. 

Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan dan sejak saat itu saya tak pernah lagi tergila-gila pada makanan laut. Biasa saja, lebih baik. Bukan hanya pada makanan laut saja kulit saya bereaksi, pada kosmetik tertentu juga. Setiap kali saya mencoba menorehkan pensil alis di bawah mata, langsung deh terasa gatal-gatal dan biasanya keesokan harinya baru hilang gatalnya. Sekarang saya biasanya menghindari semua hal yang membuat kulit saya gatal agar aktivitas saya tidak terganggu.

Tahun-tahun belakangan ini saat suami saya sering sakit, saya juga malah baru tahu kalau beliau alergi terhadap obat-obatan tertentu dan udara. Setiap kali periksa ke dokter, beliau akan bilang kalau beliau alergi obat tertentu sehingga dokter bisa menyediakan obat lain. Pun, setiap pagi saat udara masih terasa dingin, suara bersin-bersinnya akan memenuhi seisi rumah.

Morinaga Alergi Total Solution


Morinaga Allergy Week 2016

Alergi adalah reaksi salah dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu zat yang dianggap berbahaya padahal zat tersebut tidak berbahaya, seperti serbuk sari, bulu binatang dan lain sebagainya, yang dalam hal ini disebut sebagai Alergen. Alergi berdampak terhadap kesehatan fisik seperti gangguan kulit (bentol, gatal/ruam kulit, eksim), gangguan pernafasan (bersin-bersin, mengi/nafas berbunyi, tenggorokan gatal), dan gangguan pencernaan (mual, muntah, diare, BAB berdarah).

Hidup dengan resiko alergi, saya harus pintar menghindari faktor pencetus alergi dan terus mencaritahu tentang alergi untuk mengantisipasi masalah yang sama terhadap anak-anak saya, Za dan Ra. Karena selain berdampak bagi kesehatan, alergi pada anak juga berdampak besar terhadap konsentrasi belajar anak dan beban ekonomi (biaya dokter dan obat-obatan penunjang). Selain faktor lingkungan (makanan, debu/serbuk tanaman/ bulu hewan/jamur, lateks, sengatan serangga atau obat-obatan), alergi juga terjadi karena faktor genetik. Saya dan suami yang memiliki riwayat alergi berpeluang menurunkan resiko alergi pada anak-anak kami.

alergi pada anak

Sampai saat ini, walaupun penyakit akibat alergi bisa ditangani namun alergi belum bisa disembuhkan. Sementara berdasarkan International Study of Asthma and Allergies in Childhood, prevalensi alergi anak di negara Asia Pasifik seperti Indonesia, terus meningkat. Adanya program tahunan dari World Allergy Organization (WAO) yaitu World Allergy Week, sangat bermanfaat buat saya sebagai orangtua agar bisa mendeteksi alergi pada anak sejak dini. Program ini berusaha meningkatkan pemahaman mengenai alergi dan penyakit lainnya yang terkait, serta menggagas berbagai pelatihan dan sumber daya untuk melakukan diagnosa dan tindakan pencegahan.

Berkaitan dengan World Allergy Week, Morinaga menggagas Kampanye Semua Dari Ingin Tau (Tau – Cegah dan Atasi – Sebar) pada April 2015 lalu, sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman akan alergi sejak dini, agar alergi tidak menghambat potensi si Kecil. Melalui www.cekalergi.com, saya bisa mengakses berbagai informasi tentang alergi dan bahkan mengikuti beberapa program dari Morinaga secara gratis.

alergi pada anak
dampak alergi

Di website www.cekalergi.com, saya melakukan cek alegi untuk mengetahui seberapa besar resiko alergi pada si kecil. Hasilnya, Za dan Ra berpotensi terkena alergi sebanyak 40-60%! Dan memang sudah terbukti. Saat masih bayi (sekitar 2-3 tahun), setiap kali pilek nafas Za berbunyi. Kata dokter, Za mengalami gejala asma. Za juga pernah mengalami alergi susu sapi saat usianya kurang lebih 2 tahun-an. Saat itu, Za mengalami diare setelah lepas ASI dan mencoba beberapa merek susu. Kata dokter, Za mengalami alergi susu sapi dan dianjurkan mengkonsumsi susu soya. Alergi protein susu sapi memang merupakan salah satu alergi makanan yang paling sering terjadi pada bayi. Hal ini disebabkan karena protein susu sapi adalah salah satu jenis protein yang pertama kali diberikan pada bayi.

Syukur Alhamdulillah, seiring usianya bertambah dan daya tahan tubuhnya semakin kuat, Za yang 3 Mei kemarin genap 9 tahun sudah tak pernah lagi asma maupun alergi susu sapi. PR saya adalah memastikan Za tetap sehat dan terhindar dari alergi yang akan menghambat potensinya.

alergi pada anak
hasil cek alergi di www.cekalergi.com

Sekarang giliran Ra, anak saya yang berusia 4 tahun 8 bulan. Beberapa waktu lalu, dia mengalami gatal-gatal di punggung, perut, leher dan dahi. Yang mana gatal-gatal itu merupakan salah satu ciri adanya alergi. Saya sudah mencoba lotion anti gatal dan minyak herbal untuk menghentikan gatal-gatal di tubuh Ra. Tapi gatal-gatal itu lamaaaaa sekali hilangnya. Saya udah gregetan ingin Ra segera sembuh namun belum sempat pergi berkonsultasi ke dokter. Oleh karena itu, saya tidak menyia-nyiakan untuk mengikuti beberapa program yang sedang diadakan Morinaga, diantaranya adalah coaching clinic dan live chat dengan dokter.

  1. Coaching Clinic di Kalcare Bintaro Exchange Mall
Coaching clinic adalah konsultasi gratis persembahan Morinaga untuk orangtua yang ingin mengetahui lebih dalam tentang alergi. Pertama-tama, saya mengunjungi website www.cekalergi.com dan mendaftar coaching clinic di form pendaftaran yang sudah disediakan. Saya memilih waktu coaching clini pada tanggal 9 April 2016 di Kalcare Bintaro Xchange Mall karena lokasinya paling dekat dari rumah saya.

Setelah mendaftar, saya ditelepon oleh pihak Kalcare beberapa saat sebelum waktu coaching clinic untuk memastikan kehadiran saya. Jam 14.00 lewat, saya hadir di Kalcare dan disambut oleh nutrisionis. Beberapa orang terlihat sedang berkonsultasi dengan nutrisionis Kalcare di meja yang lain. Sementara itu, Za dan Ra langsung asyik bermain di area bermain yang tersedia di Kalcare Bintaro Exchange Mall.

kalcare bintaro xchange
area main di Kalcare Bintaro Xchange Mall

Ada 3 dokter yang melayani coaching clinic hari itu. Saya mendapat kesempatan berkonsultasi dengan dr. Ekawati, Sp(A). Beliau sebenarnya bertugas di RSUD Manokwari, Papua, dan kini sedang menyelesaikan pendidikan sub spesialis alergi. Orangnya baik dan ramah. Suaranya pelan nan keibuan. Saya pun menceritakan keresahan saya tentang gatal-gatal di tubuh Ra. dr. Ekawati belum bisa memastikan apakah gatal-gatal itu alergi atau bukan karena harus mengetahui pencetus gatal-gatal tersebut atau melakukan tes alergi. Kemungkinan juga, Ra hanya mengalami biang keringat. Selama ini, usaha yang sudah saya lakukan untuk menghindari gatal di tubuh Ra adalah membersihkan debu kamar secara rutin, mengganti seprai lebih sering, mengurangi deterjen, dan mengganti baju Ra lebih sering.

dr. Ekawati memeriksa tubuh Ra. Menurut beliau, kulit Ra kering  dan beliau menganjurkan Ra mandi dengan sabun yang mengandung bahan tertentu yang bisa mengurangi kekeringan di kulit Ra. Beliau menyebutkan salah satu merek sabun mandi untuk anak dan lotion untuk mengurangi gatal di tubuh Ra.

coaching clinic alergi
Ra lagi diperiksa dr. Ekawati, Sp(A)

Menurut dr. Ekawati, makanan biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia anak. Saya jadi ingat pengalaman saya makan udang dan menceritakan hal tersebut pada dr. Ekawati. Kata beliau, kemungkinan udang tersebut tidak diolah dengan baik atau sudah tidak segar lagi sehingga membuat alergi muncul. Ada benarnya sih, pikir saya. Soalnya saya membelinya dari tukang jualan di pinggir jalan. Walau sudah dikemas dengan plastik tertutup, tapi saya tidak tahu proses pengolahannya, apakah udangnya segar atau tidak.

Oh ya, free coaching clinic di Kalcare tentang alergi hanya saat Allergy week saja. Namun untuk berkonsultasi gratis dengan nutrisionis bisa kapan saja. Di Kalcare Bintaro Xchange juga ada banyak kegiatan menarik lainnya yang bisa diikuti, seperti yoga, zumba, donor darah, kids creativity, dan sebagainya. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kalcare Bintaro Xchange.

Kalcare Bintaro xchange
Nutrisionis sedang melayani konsultasi di Kalcare Bintaro Xchange

  1. Livechat dengan dr.Kartika Mayasari di www.cekalergi.com
Pada tanggal 13 April 2016, saya berkesempatan melakukan live chat dengan dokter di www.cekalergi.com. Caranya, tinggal klik form livechat di www.cekalergi.com dan kita langsung akan terhubung dengan dokter. Kali ini dr, Kartika Mayasari yang menjawab pertanyaan-peranyaan saya seputar alergi, yang belum sempat saya tanyakan di coaching clinic sebelumnya. Saya bertanya tentang tes alergi. Kata beliau, kita bisa kapan saja melakukan tes alergi. Namun setahu saya, jika pencetus alerginya sudah diketahui, kita tidak perlu lagi melakukan tes alergi.

alergi pada anak


Pastikan Alergi Tidak Menghambat Potensi Si Kecil      

Pengalaman dengan resiko alergi membuat saya sempat membuat saya tidak percaya diri dan aktivitas bermain dan belajar terganggu. Saya berharap itu tak terjadi pada anak-anak saya, Za dan Ra. Oleh karena itu, mereka perlu mendapat nutrisi yang terbaik dan dilakukan berbagai upaya pencegahan agar alergi tidak menyerang mereka.

Alergi itu banyak jenisnyanya, ada alergi makanan, eksim/dermatitis atopik, asma, dan rhinitis alergi. Orangtua perlu tahu bahwa dermatitis atopic dan alergi makanan (susu, soya, telur) bisa muncul sejak awal kehidupan anak dan biasanya menghilang saat usia pra sekolah. Asma dan rhinitis alergi umumnya muncul saat usia 3-4 tahun dan berlanjut sampai usia sekolah. Bahkan asma, Rinitis alergi dan alergi makanan lainnya (kacang, makanan laut) cenderung akan menetap sampai dewasa.

alergi pada anak

Berdasarkan penjelasan dr. Ekawati dan sumber yang saya baca, jika anak memiliki resiko tinggi alergi maka pencegahan yang bisa orangtua lakukan adalah sebagai berikut:
  1. ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
  2. Untuk ibunya, hindari paparan asap rokok selama hamil dan setelah bayi lahir
  3. Selama hamil dan menyusui, ibu tidak menghindari makanan yang sering menimbulkan alergi seperti telur, kacang-kacangan, ikan, dan makanan laut serta susu sapi.
  4. Pengenalan makanan padat untuk anak dimulai pada usia 6 bulan.
  5. Tidak ada penundaan pemberian telur, kacang, ikan dan makanan laut serta jenis makanan lainnya pada waktu Si Kecil mulai mendapat pengenalan makanan padat.
  6. Pemberian susu Protein Hidrolisat Parsial (P-HP) dan Protein Terhidrolisat Penuh untik bayi-bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI.

Untuk anak yang mendapatkan ASI namun menunjukkan alergi, ibunya dianjurkan untuk tidak mengonsumsi susu sapi, telur, ikan, kacang umbi, kacang pohon (almon, kenari). Dan untuk anak yang mendapatkan susu formula dan ternyata alergi terhadap protein susu sapi, salah satu strategi yang tepat bagi orangtua untuk mengatasi alergi susu sapi pada anak adalah menghindari protein susu sapi yang utuh.  Sebagai penggantinya, orangtua  bisa memberikan susu formula hidrolisat penuh, formula asam amino, atau formula isolat protein kedelai (soya).

morinaga


Sekarang hadir Moricare+ Prodiges dari Kalbe Nutritionals berupa Susu pertumbuhan Morinaga Protein Hidrolisat Parsial (P-HP) dan Morinaga Soya. Susu pertumbuhan Morinaga Protein Hidrolisat Parsial (P-HP) berbahan dasar protein susu sapi dengan rantai protein yang lebih pendek dan mudah dicerna, sehingga dapat membantu mengurangi resiko alergi. Sedangkan susu pertumbuhan Morinaga Soya diperkaya kandungan L-Metionin dan Karnitin yang dapat mengatasi gejala alergi susu sapi dan mendukung tumbuh kembang optimal. 

Inovasi unggulan dari Morinaga ini berupa sinergi nutrisi yang mendukung 3 hal ini untuk anak:

  1. Kecerdasan multitalenta, karena didukung nutrisi Kolin, asam lemak esensial AAL dan AL (Alfa-Linoleat dan Linoleat), dan sat besi.
  2. Pertahanan tubuh ganda, karena terdiri dari kombinasi probiotik 536 dan 16V (bakteri baik) dan prebiotic laktulosa (makanan bakteri baik) yang bersinergi untuk kesehatan saluran cerna dan meningkatkan daya tahan tubuh.
  3. Faktor tumbuh kembang optimal, karena merupakan kombinasi Vitamin D dan Kalsium yang membantu menjaga kepadatan tulang dan gigi.
Oh ya, jika anak kurang suka dengan rasa Morinaga P-HP atau soya, kita bisa berkreasi membuat makanan yang disukai anak menggunakan susu tersebut. Misalnya puding, donat, pancake, dan sebagainya.

puding susu soya
puding susu soya, resep di www.cekalergi.com

Tidak hanya nutrisi saja yang diperlukan anak dengan resiko alergi untuk meningkatkan potensinya. Orangtua juga jangan lupa untuk terus melakukan stimulasi agar potensi anak terasah, berupa pola asuh yang tepat, gaya belajar yang sesuai dan kecerdasan emosi yang tepat. Dengan begitu, kita berharap anak-anak kita menjadi anak Indonesia yang tumbuh dan berkembang menjadi generasi platinum yang mutitalenta (Baca tulisan saya berjudul “Ingin Anak Cerdas dan Sehat, Ini Rahasianya!”).

Saya bersyukur meski Za dan Ra berpotensi alergi sebesar 40-60%, mereka tetap semangat dalam belajar dan bermain. Za sempat terkena alergi berupa asma dan alergi susu, namun dia berhasil melewatinya dan alergi tidak menghalanginya untuk berprestasi. Saat di bangku TK, Za pernah menjuarai lomba-lomba, yaitu Juara 2 Lomba English Fun Game dan Juara Harapan 2 lomba mewarnai. Begitu juga dengan Ra, ia mengikuti kegiatan di sekolah dengan ceria walau kadang gatal-gatal menyerangnya. Dari mulai fun cooking, lomba mewarnai, lomba fashion show, dan seterusnya.

alergi tetap berprestasi
Walau Za dan Ra berpotensi tinggi mengalami alergi, mereka tetap semangat belajar dan bermain.
 
Jika ayah dan bunda ingin tahu lebih banyak tentang alergi dan informasi terkait, silahkan kunjungi website www.cekalergi.com. Ada banyak informasi menarik di sana, misalnya resep untuk anak dengan resiko alergi, hospital parenting seminar, berbagai lomba, dan sebagainya. Selain melalui website, berbagai informasi kesehatan bisa diakses juga melalui sosial media Morinaga berikut ini.

Facebook: Morinaga Platinum
Twitter: @Morinagaid
Instagram: @MorinagaPlatinum

18 comments :

  1. Hasil cek alergi di web itu akurat nggak mba?. Kalau mau tes alergi biayanya mihil soalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tes alergi mahal ya. Cek alergi di cekalergu.com hanya menghitung presentasi resiko alergi aja. Saya yakin udah diperhitungkan sama tim Morinaga keakuratannya

      Delete
  2. Saya juga alergi mbak.Alergi makanan.Tapi alhamdulilah dua krucils nggak alergi seperti saya

    ReplyDelete
  3. Anak saya juga alergi kayaknya mbak.. Bintik bintik merah di kulit nya.. Wah harus segera di cek.!

    ReplyDelete
  4. Kadang alergi masih dianggap sebagai hal yang sepele oleh para orang tua

    ReplyDelete
  5. Lengkap banget Mbak artikelnya, berguna banget buat referensi anakku yang juga alergi asma.

    ReplyDelete
  6. pas masih kecil saya juga punya alergi udang, sehabis makan pasti sekitar bibir langsung gatal-gatal.
    syukur setelah dewasa sudah tidak alergi lagi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga ga pernah gatal2 lg krn emang menghindari terlalu bnyk seafood ;)

      Delete
  7. ARTIKEL YANG BAGUS (y)
    .
    .
    Ditunggu kunjungan baliknya ya di http://www.dzikirsm.web.id/2016/03/memilih-menyendiri.html :)

    ReplyDelete
  8. efek alergi bisa serius ya jika diabaikan

    ReplyDelete
  9. lengkap banget tulisannya mak kania. Anakku yang gede alergi debu, kalau banyak debu pasti bersin2 terus

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...