Thursday, April 14, 2016

Mencapai #BahagiaDIRumah Setelah Resign

bahagia di rumah

Orang yang baru pertamakali bertemu saya pasti menyangka bahwa saya pendiam. Mm, gak salah sih. Memang seringkali begitu, terutama jika saya merasa sungkan, takut menyinggung atau bingung mau bicara tentang topik apa. Tapi, kalau sudah beberapa kali bertemu, biasanya kesan pendiam tidak terlalu kentara. Saya akan berusaha ngobrol apa saja. Walau saya tak menyanggah bahwa saya punya karakter pendiam, tapi sebenarnya saya orangnya tak bisa diam, Eh. Maksudnya, saya senang melakukan sesuatu. 

Ketika resign dari mengajar tahun 2011, tak terpikirkan saya akan merasa bosan di rumah. Justru saya excited. Yes, anak kedua lahir begitu saya resign, saya akan sibuk dengan berbagai hal. Saya memang sibuk. Dari pagi sampai tidur saya sibuk, rasanya tak ada waktu sedikit pun bahkan untuk bernafas sekalipun. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan anak sekolah dan suami yang akan pergi bekerja, menyusui, mencuci, menyapu, mengepel, menyusui lagi, memasak, mengantar anak untuk ngaji, menyusui lagi, dan seterusnya.

Awalnya saya baik-baik saja. Orang lain juga ada yang bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, masa saya nggak bisa, begitu pikir saya. Saya senang banget bisa kembali jadi orang rumahan. Orang rumahan versi saya adalah orang yang sehari-harinya banyak beraktivitas di rumah. Saya senang bisa mengurus anak dengan tangan sendiri. Saya senang bisa mengatur keuangan sendiri, tanpa khawatir asisten rumah tangga memakai gas kompor terlalu besar atau menggoreng dengan minyak terlalu banyak. 

bahagia

Namun, namanya juga hidup, selalu saja ada ujiannya. Saya mulai merasa jenuh, lelah, kecewa, tak adil dan perasaan negatif lainnya termasuk merasa…tidak bahagia! Pada satu dan beberapa titik, saya berkata dalam hati, “Oke, ini harus berhenti, tidak bisa terus begini. Kalau terus-terusan begini, saya bisa jadi mayat hidup atau robot yang hanya bisa melakukan rutinitas tanpa perasaan”. Saya mulai mencari-cari apa yang terjadi, apa yang salah, apa yang harus saya lakukan, melalui obrolan dengan teman, googling di internet, dan sebagainya.

“Kebahagiaan itu tidak bisa datang dengan sendirinya, ia harus diusahakan. Kebahagiaan juga tentang pilihan. Jika saya memilih untuk bahagia, ya berbahagialah dengan apapun kondisi saya.”
Itu kira-kira yang bisa saya simpulkan dari pencarian saya. Saya pun mulai melakukan berbagai hal untuk mencapai #BahagiadiRumah Setelah saya memutuskan resign.

1. Melakukan hal yang menyenangkan di rumah

Banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di rumah, bagi saya menulis salah satunya. Dulu saat SMA, saya punya buku diary untuk mencurahkan perasaan saya. Sekarang, saya mencurahkan perasaan dan ide melalui tulisan di blog. Memang harus dipilih-pilih, mana yang harus dipublish atau tidak, karena tulisan di blog akan dibaca orang seisi dunia. Saya juga pernah melakukan kesalahan dengan menyinggung seseorang di blog. Setelah ditegur, saya pun ‘menurunkan’ tulisan tersebut. Saya menyesal tidak mampu menahan emosi, namun saya juga lega dia tahu apa yang saya rasakan. Mudah-mudahan saya semakin berhati-hati dalam menulis di blog.
menulis

Ada tips untuk menjadikan menulis sebagai hal yang menyenangkan bahkan terapi jiwa. Tulislah apa yang menjadi keresahan hatimu (sedih, marah, kecewa) di mana saja, bisa di aplikasi note di smartphone, kertas atau komputer. Biarkan selama beberapa hari lalu lihat kembali tulisan tersebut. Saya seringkali merasa ‘buruk’, kasar, bahkan menertawakan diri sendiri setelah melihat tulisan tersebut. Lalu saya bisa melakukan satu dari 3 hal berikut:

  • Membuang kertas atau menghapus tulisan tersebut seiring dengan semakin membaiknya perasaan.
  • Menjadikan tulisan tersebut sebagai ide menulis cerita yang bisa dikirimkan ke media cetak. Siapa tahu jadi rejeki. Tulisan yang berawal dari pengalaman biasanya lebih memiliki ‘jiwa’. Saya pun pernah melakukannya dan pernah dimuat juga. Ini satu hal yang membahagiakan, bukan? Mungkin istilahnya “derita membawa bahagia” hehe.
  • Menjadikan tulisan tersebut sebagai tulisan yang lebih bermanfaat. Misalnya, kita bisa membuat tulisan di blog dengan kasus yang sama yang pernah kita alami, namun tokohnya orang lain atau tak perlu menyebutkan tokohnya jika kita merasa malu. Kita bisa menceritakan solusi dan hikmah dari kasus yang pernah kita alami. Manfaatnya jadi berlipat, hati kita bahagia beban sudah dilepaskan lewat tulisan, orang lain pun bisa mengambil manfaat dan pelajaran dari tulisan kita. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari perbuatan memberi, dalam hal ini memberi inspirasi buat orang lain.
2. Mengingat hal-hal yang membuat saya bersyukur dan pantas berbahagia

Saya bersyukur suami tak mengharuskan saya bekerja dan mencukupi kebutuhan kami sekeluarga. Ada teman dekat saya yang harus kembali bekerja dan menitipkan anak-anaknya pada mertua karena suaminya di-PHK. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang pantas saya dustakan?

happy family
fabiayyi aalaa irabbikuma tukadzibaan

Saya bersyukur bisa merawat anak sendiri dan melihat proses tumbuh kembang mereka setiap hari. Ini adalah pilihan yang saya ambil, kenapa saya harus tak bahagia? 

Beribadah dalam agama saya itu mudah. Menyusui, mendidik anak, mengurus rumah, menjaga harta suami dengan cara mengatur keuangan dengan baik, dan sebagainya, akan dinilai pahala jika saya niatkan untuk ibadah. Ini adalah salah satu yang saya ingat agar saya bahagia sebagai ibu rumah tangga yang lebih banyak beraktivitas di rumah.

3. Menghadirkan surga dunia di rumah

Surga itu selalu menggambarkan hal yang indah, tenang, membahagiakan. Agar penghuni rumah selalu tenang, saya membiasakan diri, juga Za dan Ra, untuk membaca Alquran setelah Magrib. Allah SWT sudah menjanjikan Alquran sebagai obat buat hati yang gelisah. 

Rumah yang bersih dan rapi merupakan surga dunia bagi saya, karena saya memang suka yang teratur dan rapi. Tapi karena saya punya anak yang masih senang bermain, surga dunia saya tak bisa selalu terwujud. Oke, dari pagi sampai sore mainan boleh berantakan di semua penjuru rumah. Namun menjelang Magrib biasanya saya minta anak-anak membereskan semua mainan ke tempatnya. Untungnya, Za dan Ra sudah bisa diajak kerjasama membereskan mainan mereka sendiri. Apalagi Ra, anak perempuan 4,5 tahun ini sangat bisa diandalkan untuk membantu membereskan mainan. Rasanya, lega banget jika mainan sudah tertata di tempatnya dan lantai sudah bersih dari sampah.

Ini nih salah satu makanan yang bikin bahagia, cireng hihi! Gimana nggak bahagia, bikin kenyang dan murah meriah.

Kalau di surga, makanan apapun ada. Kalau di rumah saya, makan daging pun jarang soalnya mahal. Namun saya selalu mengupayakan Za dan Ra cukup makan, selalu ada cemilan walaupun yang murah meriah. Dua malaikat kecil saya ini, makan apapun kalau bareng-bareng pasti akan bilang begini dengan senyum lebar mereka, “kayak pesta ya…”.

Itulah 3 hal yang terus menerus saya usahakan untuk mencapai #BahagiadiRumah setelah resign. Rumah saya memang bukan surga dan jauh dari sempurna. Sebagian atap rumah bocor dan rusak dimana air bebas masuk ke dalam rumah saat hujan datang. Tapi, kebahagiaan itu bisa dirasakan bukan saja dari bentuk fisik, tapi juga dengan siapa saya menghabiskan waktu. 

Rumah saya memang bukan surga. Rumah tangga saya juga tidak selalu adem ayem, namun saya sekeluarga berusaha terus untuk mewujudkan keluarga yang harmonis. Di rumah ini, kami semua berbuat salah dan belajar saling memaafkan. Di rumah ini kita bersenang-senang dan berpelukan. Di rumah ini juga kita belajar sabar dan saling mencintai.

It take hands to build a house
But only hearts can build a home
(anonym)

Tulisan diikutsertakana dalam BLOG COMPETITION #BahagiadiRumah NOVAVERSARY

18 comments :

  1. Bagaimanapun emang rumah adalah tempat kembali yang paling nyaman dan bikin bahagia. Tapi, saya belum berani resign dari kerjaan sekarang nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo anak aman, jangan resign mba *ngomporin

      Delete
  2. butuh waktu yang lama gak sih kak untuk dapat beradaptasi dengan keadaan dan keh=giatan yang baru?
    karena paska resign tentu banyak hal yang berbeda dari sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung kondisi masing2 mba, waktu itu begitu resign anak ke2 lahir jd saya langsung sibuk sm anak

      Delete
  3. penutupnya cireng...luar biasa deh..

    ...tulisannya bagus bgt..good luck ya

    ReplyDelete
  4. Resep cirengnya ada mbak..? #gagal fokus mbak..

    ReplyDelete
  5. Cirengnya,menggoda #gagalfokus
    Menjadi diri sendiri, itu #bahagiadirumah versiku
    Ahaii....

    ReplyDelete
  6. baru dengar nama makanan namanya cireng..

    btw saya belum berani resign Mba Kania, entahlah, rasanya saya belum siap :(

    ReplyDelete
  7. Asik..sore2 bisa makan cireng...hehehe :)

    ReplyDelete
  8. Menghadirkan surga di rumah. Itu PR-nya.
    Thanks sharingnya Mbak. Aku juga meski bukan IRT, tapi kerja dari rumah juga. Ngantornya fleksibel :).

    ReplyDelete
  9. saya resign pas hamil anak pertama, dan tiap hari ga pernah kurang kerjaan..klo diturutin adaa aja yg hrs dikerjakan :)

    ReplyDelete
  10. Saya masih belum nemu potensi diri jd masih kerja demi menambah ilmu dulu hehehe tp cita2 pgn kerja fleksibel dirumah semoga tercapai aamiin TFS mba ^^

    ReplyDelete
  11. Tips untuk mengolah kisah buruk dari diary sip deh mbak. bisa difiksikan ya mbak

    ReplyDelete
  12. Saya salut pada mbak Kania karena selalu posting lomba jauh-jauh hari dari tanggal DL, tidak takut dicontek *kalau rejeki nggak kemana ya mbak :)
    Saya sering ikutan GA dari informasi blognya mbak Kania, meskipun nggak semua saya ikuti juga. Semoga yang ini menang lagi ya mbak, aamiin :)

    ReplyDelete
  13. Saya juga suka beraktivitas di rumah mbak, tetapi lingkungan rasanya tidak mendukung. Aku dianggap pengangguran. Jadi galau nih .,

    ReplyDelete
  14. Cirengnya aku suka mba hihii..
    Aku juga ikutan ini mba, goodluck yah mba..
    Tapi setelah resign aku pun mencapai bahagia mba, rasanya seneng banget ^^

    ReplyDelete
  15. Cabenya aduhai bener itu, merah-merah namfol. Hhehehe...

    Kalau saya sempat galau mba, ketika mau resign :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...