Friday, May 22, 2015

Alhamdulillah, Saya Sudah 2 Kali Operasi Caesar



Anak merupakan anugerah. Anak merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga dan dididik agar menjadi manusia bermanfaat. Dalam agama saya, bahkan anak membawa kedudukan mulia yang sebelumnya tak ada. Sebuah hadist Nabi mengatakan:  "Tidaklah lahir sesorang anak dalam keluarga seseorang melainkan ia menjadi kemuliaan tersendiri bagi mereka yang sebelumnya tidak ada." (Hadist ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Ausath).

Banyak wanita yang mudah mengandung karena rahimnya yang subur. Sebaliknya, tak sedikit wanita yang belum mengandung juga karena berbagai faktor. Saya bersyukur Allah SWT memberikan kesempatan tiga kali mengandung. Walau kehamilan kedua tidak bisa diselamatkan, saya masih bisa mendekap dua buah hati yang kini berusia 8 dan 3 tahun 9 bulan.  

Kehamilan pertama  

Dua bulan setelah menikah, saya mengandung. Sebenarnya saya sempat mengkonsumsi pil kontrasepsi karena saya harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk menyelesaikan skripsi pendidikan sarjana saya. Saya khawatir, jika saya hamil saya tidak bisa menunaikan janji pada orangtua untuk menyelesaikan skripsi. Saya khawatir tidak bisa menjaga kehamilan karena aktifitas yang padat.  

Ada yang memberi masukan pada saya kenapa menunda kehamilan pertama dengan kontrasepsi. Katanya, banyak pengalaman menunda kehamilan pertama jadi sulit mengandung saat sudah menginginkan kehamilan. Saya mulai berfikir, iya ya kenapa harus menunda kehamilan pertama. Banyak kok wanita hamil sambil bekerja atau kuliah, dan mereka dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Terus terang, dalam hati kecil saya juga takut jika nanti lepas kontrasepsi akan sulit mengandung. Maka, Bismillah, saya bulatkan tekad dan minta ijin suami untuk melepas kontrasepsi.    Alhamdulillah, tak perlu menunggu lama saya pun langsung hamil. Saya sambut janin ini dengan penuh suka cita. Saya periksakan rutin di bidan terdekat sambil terus menyelesaikan skripsi. Saya juga mengkonsumsi vitamin yang diberikan bidan.   

Tiga bulan pertama, saya tak henti mual dan muntah. Setiap selesai makan, saya muntahkan lagi. Saya tak tahan dengan bau telur. Saya begitu sensitif dan cepat menangis. Diantara kekacauan emosi saya karena hormon kehamilan, saya menerima kabar baik saat saya dinyatakan lulus sidang skripsi dengan nilai A. Alhamdulillah. Saya bersyukur sekali pada Allah. Perjuangan saya bolak-balik Jakarta-Bandung, menunggui dosen ini dan itu selama berjam-jam, mengerjakan revisi berkali-kali, membuahkan hasil memuaskan. Entahlah kalau dosen penguji itu kasihan pada saya yang sedang mengandung. Mudah-mudahan nilai A itu benar-benar karena skripsi saya bagus.  

Sumber:infobidannia.wordpress.com
Perut saya kian hari kian membesar. Sesekali saya periksa ke dokter untuk melihat sang bayi lewat alat ultrasonografi (USG).Usia tujuh bulan kehamilan, saya pulang ke rumah orangtua di Kuningan karena suami mendapat tugas dinas. Suami pesan ini itu, banyak makan seafood lah, jangan makan mie instan lah, dan sebagainya. Namanya juga lagi hamil dan lagi senang makan, saya sedikit melakukan pelanggaran. Melihat tumpukan mie di warung ibu saya, membuat air liur saya menetes. Jadilah saya makan mie instan. Tapi tak banyak kok, rasanya sih cuma sekali.  

Menjelang persalinan, saya pulang lagi ke rumah orangtua. Saya memang berniat melahirkan di kampung halaman karena ingin dekat dengan orangtua, terutama ibu. Maklum, ini persalinan pertama saya. Di kampung, banyak saudara dan tetangga yang siap membantu walau tak diminta. Walau awalnya berat, suami akhirnya mengijinkan.  

Menjelang persalinan, saya rajin memeriksakan kandungan pada seorang dokter yang lumayan terkenal di kota kelahiran saya. Pada suatu hari, seperti biasa saya memeriksakan kandungan saya. Dokter memeriksa kandungan lewat USG. Tiba-tiba sang dokter bilang, "Wah, ini air ketubannya tinggal sedikit, sudah hijau. Ini harus dilahirkan hari ini!"  

Tentu saja saya terkejut. Minggu-minggu kemarin tidak ada masalah dengan kandungan ini. Kenapa sekarang air ketubannya tinggal sedikit. Hanya, memang saya tak mengalami sedikit pun kontraksi. Seolah bayi di perut ini betah di dalam sana. Dokter melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan apakah saya bisa melahirkan normal. Ternyata, panggul saya sempit dan bayi tak bisa dilahirkan secara normal. Padahal beratnya cuma 2,9 kg. 

Dokter juga bilang bahwa perut saya termasuk perut gantung. Belakangan saya tahu bahwa perut gantung adalah letak rahim yang semakin ke depan seperti menggantung saat hamil. Hal ini disebabkan karena jaringan ikat otot perut sudah kendur dan tak bisa menahan beban kehamilan. Pada ibu hamil dengan perut gantung seperti saya, memang kontraksinya kurang bagus dan sebagian melahirkan secara sectio. Dokter biasanya menyarankan untuk memasang korset, gurita, atau ikat perut untuk menyokong perut dari bawah.  

Sumber: http://reproduksiumj.blogspot.com/2011/09/distosia-akibat-gangguan-pada-jalan.html

Menurut Agustinus Gatot, MD, dokter dari RS Harapan Kita Jakarta, kelainan rahim ada yang berupa kelainan kongenital, letak rahim dan tumor. Kelainan kongenital contohnya tak ada rahim, rahim kecil atau tak tumbuh, mempunyai dua rahim, rahim berbentuk hati, rahim bersekat, dan rahim bertanduk. Kelainan letak rahim contohnya letak rahim ke belakang, perut gantung, rahim keluar atau menonjol di vagina, dan rahim terbalik ke bawah.  

Saat operasi akan dilakukan, saya harus puasa beberapa jam sebelumnya. Saya pasrah pada Allah SWT, menyerahkan semua urusan ini pada-Nya. Pada saat darurat seperti ini, aurat yang biasanya tertutupi harus ikhlas dibuka sebagian demi mengeluarkan sang bayi ke dunia. Mengambil istilah dari kakak ipar, tubuh kita yang telanjang di meja operasi itu laksana daging korban saja yang harus ikhlas menyerahkan dirinya pada Tuhan. Seorang teman dekat menghibur saya, "Masih beruntung kita hidup di zaman yang sudah maju. Coba bayangkan orangtua kita zaman dulu dimana teknologi operasi belum ada, keselamatan ibu dan bayi terancam!"  

Tak lama kemudian, bayi laki-laki itu hadir. Dokter memperlihatkan sekilas sang bayi ke hadapan saya. Sayang, karena mata saya minus besar, saya kurang bisa melihat wajahnya dengan jelas. Baru setelah beberapa jam kemudian, saya bisa menggendong dan menyusui sang bayi. Karena ayahnya belum datang dari Jakarta, kakeknyalah (ayah saya) yang meng-adzan-kan sang bayi.  

Subhanallah, sepanjang malam anak lelaki ini tak henti menangis. Suaranya kencang sekali. Karena saya belum bisa bangun sendiri, saya dibantu saudara-saudara untuk menyusui sang bayi. Saya bersikeras untuk menyusukan sang bayi walau suster menawarkan susu formula. Walau air susu baru keluar sedikit, saya dekatkan sang bayi ke dada saya. Tapi akhirnya saya peras ASI dan disuapkan ke mulut bayi memakai sendok karena lagi-lagi saya susah bangun akibat nyeri pasca operasi. 

baby Zaidan usia kurleb 5 bulan

Kini, bayi lelaki itu sudah berumur 8 tahun. Saya dan suami memberinya nama Zaidan Fathin Izzati. Zaidan artinya istimewa. Fathin dari kata fathanah artinya cerdas. Izzati dari kata izzah artinya mulia. Nama tersebut adalah doa dan harapan kami terhadapnya.  

Kehamilan kedua  

Ini adalah kehamilan yang tak direncanakan. Saat itu saya baru beberapa hari menempati rumah baru di area Bintaro. Saya langsung melakukan test pack saat mendapati haid yang terlambat. Antara yakin dan tidak, saya mendapati dua garis tipis berwarna merah muda. Namun karena kesibukan menata rumah, beberapa hari kemudian darah keluar dari kemaluan. Saya harus menginap di rumah sakit untuk kuret. Antara sadar dan tidak, sepanjang operasi kuret saya mendengar tangisan bayi sepanjang malam. Saya merasa berada di satu negeri asing dan sendiri. Padahal sebenarnya tangisan bayi itu memang nyata karena ruang operasi berdekatan dengan ruang bersalin/ruang bayi.  

Dari kehamilan kedua ini, saya mengambil hikmahnya. Jika kelak hendak mengandung lagi, harus mempersiapkan diri dari jauh hari baik jasmani maupun rohani. Agar anak yang dilahirkan sehat, ibu pun siap mengurus dan mendidiknya.  

Kehamilan ketiga  

Zaidan sudah berusia empat tahun. Saya merasa ia sudah pantas memiliki adik agar ada teman main di rumah. Rencana saya memang minimal dua anak kami miliki. Dengan kondisi panggul sempit dan ada pengalaman sectio, tentu saya tak mungkin memiliki banyak anak. Dua anak rasanya sudah cukup ideal untuk kami.  

Waktu itu saya masih bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah swasta. Saya banyak beraktifitas yang menguras tenaga. Sampai satu saat saya merasa kondisi rahim saya turun. Tanda-tanda yang saya rasakan sama dengan kelainan letak rahim keluar/menonjol di vagina, yaitu sakit perut bagian bawah seolah ada yang hendak turun ke vagina. Selain itu, kalau berjalan perut saya seolah kantung yang berisi air yang siap tumpah. Ketika saya periksakan ke dokter, dokter tidak menemukan kelainan apapun lewat USG. Maka, saya mencoba pengobatan alternatif dengan dipijat, minum ramuan herbal penguat rahim, dan terapi kaki di atas selama beberapa menit dengan disangga dinding. Belakangan, saya mendapat informasi bahwa pijat rahim di dunia medis tidak dikenal karena tidak bisa menguatkan otot rahim yang turun. Pengobatan untuk rahim turun disarankan dengan senam kegel, pembedahan, dan sebagainya.

Sumber: https://www.lintas.me/woman/beauty/ramuanherbalboyke.com/manfaat-senam-kegel-untuk-wanita

Saya sudah punya anak laki-laki, tentu menginginkan anak perempuan untuk kehamilan berikutnya. Saya seringkali membaca di media online atau obrolan dengan teman tentang program kehamilan anak perempuan/laki-laki. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa jika ingin anak perempuan, upaya yang harus dilakukan diantaranya: ibu harus makan makanan tinggi mineral, kalsium dan magnesium, hubungan suami istri dilakukan 2-3 hari sebelum ovulasi, dan sebagainya. Saya pikir tak ada salahnya mencoba upaya tersebut, walau pada akhirnya tangan Tuhan yang berkuasa.   

Ketika saya merasa tubuh saya sehat dan siap mengandung, saya menghentikan kontrasepsi. Saya mencoba upaya tersebut di atas. Doa kepada Allah SWT saya panjatkan tiada putus. Saya minta pada-Nya dikaruniakan anak yang soleh dan solehah penyejuk hati orangtua.   

Saat dinyatakan mengandung, saya pun rajin minum vitamin dan memeriksakan diri seperti halnya kehamilan pertama. Kehamilan ketiga ini cenderung 'bandel'. Trimester pertama dan kedua saya lalui tanpa hambatan yang berarti. Pada trimester tiga beban di perut saya makin bertambah. Kalau jalan sedikit, nafas ngos-ngosan. Apalagi saya saat itu bekerja sebagai tenaga pengajar, kadang-kadang harus berteriak di depan anak-anak. Belum lagi, medan kerja yang kadang berbatu dan licin karena rumput dan tanah basah (saya mengajar di sekolah alam).  

Kurang lebih usia kandungan delapan bulan, saya sering merasakan kontraksi. Makin hari makin sering. Kalau sudah tak tahan, saya tiduran sambil menangis. Melihat saya menangis, suami membawa saya ke rumah sakit. Dokter bilang, saya sudah kontraksi tapi bayi belum siap dilahirkan. Bayi harus menjalani pematangan paru-paru. Berarti, saya harus menginap dan menjalani serangkaian pengobatan.   

Kami memutuskan menolak pematangan paru dan mencari opini kedua ke dokter lain. Selama menunggu konsultasi dengan dokter lain, saya diminta suami mengkonsumsi spirulina. Spirulina adalah tumbuhan air sejenis ganggang yang berwarna hijau kebiru-biruan dan termasuk makanan yang menyehatkan. Saat ini Spirulina sudah banyak dijual dalam bentuk kapsul sehingga mudah untuk dikonsumai. Gizi yang seimbang dalam Spirulina membantu pertumbuhan janin.  Kalsium dan magnesiumnya dapat membantu tulang dan gigi. Zat besi, asam folat dan klorofil dalam spirulina dapat mencegah anemia. GLA yang seimbang membantu sistem hormon dan kestabilan emosi. Vitamin B12 dan E mengurangi resiko keguguran. Vitamin B12 dan asam folat mencegah kelahiran bayi cacat.  

Beberapa hari kemudian, saya memeriksakan diri ke dokter lain yang merupakan rekomendasi kakak ipar. Alhamdulillah, dokter menyatakan bayi sudah siap dilahirkan. Tanpa pemeriksaan dalam, dokter mengukur jalan lahir dan berat bayi lewat komputer. Saya dapat melahirkan secara sectio karena lagi-lagi panggul sempit.  

Sumber: pondokibu.com

Hari yang dinanti tiba. Ibu saya datang untuk memberi dukungan moril. Bersama suami dan anak pertama saya, mereka menunggu di luar ruang operasi. Proses sectio berlangsung cepat dan tanpa rasa sakit sedikit pun. Saya diberi anestesi, perut dibelah dan bayi dikeluarkan. Pada saat penjahitan perut lah saya merasakan otot perut seperti ditarik-tarik. Saya berteriak pada dokter, "Dok, sakiiit dok..". Dokter dan suster berusaha menenangkan. "Iya bu, tenang bu, ini ada sedikit perlengketan. Mungkin akibat operasi pertama", kata dokter. Saya pun hanya bisa menunggu mereka menyelesaikan pekerjaan mereka sambil menahan rasa sakit.  

Saya tak sempat bertanya apa perlengketan yang dimaksud. Boro-boro bertanya, yang ada saya shock karena rasa sakit yang terasa. Belakangan ketika saya browsing di internet, banyak faktor yang menyebabkan pelekatan rahim. Salah satunya disebabkan oleh infeksi. Bila tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan infeksi berlanjut dan mengurangi fungsi organ reproduksi. Naudzubillah. Dibalik rasa sakit itu saya bersyukur pelekatan pada rahim itu segera ditangani. Ya, bisa jadi infeksi tersebut akibat operasi pertama karena seingat saya penyembuhannya relatif lama. Bahkan berbulan-bulan setelah melahirkan saya masih bisa merasakan nyeri di luka bekas operasi. Saya juga kerap mendapat keputihan yang berbau, dimana keputihan merupakan salah satu tanda adanya infeksi di rahim.  

Selesai operasi, saya dipindahkan ke sebuah ruang dimana ibu-ibu lain yang sudah dioperasi ditempatkan berjejer. Saya lihat ibu di samping saya sedang melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Saya bertanya dalam hati dimana bayi saya, kenapa saya tidak melakukan IMD, kapan saya dibawa ke kamar. Tapi tanya itu hanya dalam hati, sebab suster sibuk wara-wiri mengurus ibu baru melahirkan dan bayinya. Saya pun tak cukup kuat untuk berteriak. Lagi-lagi saya hanya diam, menenangkan hati yang shock karena operasi barusan.   

Ketika akhirnya saya dibawa ke kamar dan bertemu bayi saya,  Subhanallah saya merasa haru sekali. Dia bayi perempuan yang cantik dan sempurna. Kepalanya bersih dari kotoran, tidak seperti waktu kakaknya yang baru lahir. Tapi dia belum selahap kakaknya saat minum ASI (Air Susu Ibu). Padahal ASI saya melimpah karena suami memberikan herbal penambah ASI. Maklum, anak perempuan, malu-malu kucing.  

Baby Raissa, baru saja dilahirkan

Bayi perempuan itu tumbuh dari hari ke hari. Dia anak perempuan yang tangguh. Dia sudah jatuh dari kasur berkali-kali saat usianya belum setahun. Namun dia tidak juga kapok berguling-guling di kasur. Usianya sudah 3 tahun 9 bulan sekarang. Alhamdulillah sehat walafiat, jarang sekali sakit yang lumayan parah. Hanya sesekali batuk, pilek dan demam saat perubahan cuaca atau tertular kakaknya. 

Bayi perempuan yang lahir di bulan Ramadhan itu kami beri nama Raissa Rahmania. Raissa artinya yang beriman. Rahmania merupakan gabungan nama suami dan saya, Rahman dan Nia. Semoga kelak engkau jadi perempuan yang senantiasa memegang tali agama-Nya, nak! Aamiin. 

Setiap kali bulan suci Ramadhan datang, setiap itu pula saya ingat kebahagiaan atas kehadiran putri kecil saya ke dunia. Walau Idul Fitri kami sepi karena hampir semua saudara dan tetangga mudik, namun kesepian itu terganti dengan keramaian tangisan sang putri kecil.

Begitulah pengalaman saya tiga kali mengandung dan melahirkan dua anak. Konon, perempuan yang pernah dioperasi sectio hanya bisa maksimal tiga kali melahirkan. Diberi dua anak saja saya sudah bersyukur. Jika Allah SWT kelak memberika rejeki keturunan lagi, tentu saja saya harus siap dan tidak menolak.  

Perempuan akan merasa sempurna jika pernah mengandung dan melahirkan. Namun, janganlah perasaan itu membuat kita, perempuan, menjadi takabur. Karena sejatinya Yang Maha Sempurna adalah Tuhan, Allah SWT. Dia menciptakan perempuan memiliki rahim yang kokoh, untuk mengemban tugas mulia: mengandung dan melahirkan generasi penerus peradaban.  

Sumber referensi: tabloidnova.com, bidanku.com, bankherbal.com 

37 comments :

  1. mirip dengan istriku mbak, 3x hamil, 2x melahirkan dengan operasi caesar
    hamil kedua yg mengalami keguguran
    operasi yg pertama karena kata dokter si bayi terlilit tali pusar
    operasi yg kedua karena sudah pecah ketuban tapi nggak kuat kontraksi sehingga dikhawatirkan membahayakan si bayi
    alhamdulillah kedua operasi berjalan lancar
    dan alhamdulillah kedua putri kami hingga kini sehat wal afiyat
    semoga kelak anak-anak kita menjadi penerus peradaban islami yang tangguh yaa mbak :)

    ReplyDelete
  2. Anaknya sudah lengkap ya mbak, laki dan perempuan. Semoga keduanya selalu sehat :)

    ReplyDelete
  3. Subhanallah.. perjuangannya mbak :')
    tapi ceritanya bikin merinding plus mules :))

    ReplyDelete
  4. speechless mba...

    alhamdulillah ya udah ada Zaidan dan raissa

    ReplyDelete
  5. wih.., cesar selalu menyisakan cerita yang mendalam ya Mak. jadi ingin sharing pengalaman cesarku juga. duh.., jadi mules kalau inget itu

    ReplyDelete
  6. Wah mbak...perjuangannya itu lho hebringlah...*sambil ngusap-ngusap perut*
    Alhamdulillah ya semuanya lancar adeknya sehat hihi... :)

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah ya mbaaa, smoga menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah..

    saya juga ngalamin melahirkan secara operasi, 4x, tp skarang udah tutup produksi :))

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, sya turut bahagia mba :)
    Saya bisa merasakan bagaimana rasanya operasi caesar karena dulu lahiran anak saya harus melalui operasi juga, saluuutt :)

    ReplyDelete
  9. waah mba.. kita samaan merasakan pengalaman operasi sc dua kalii, klo di saya yg kedua lebih sakit... btw untung banget ya mba perlengketannya bisa segera di atasi..

    ReplyDelete
  10. Sama mbak....saya juga 2_2nya sc...pertama krn kurang ketuban, kedua nggak berani gambling....takut endingnya sc lagi. Alhamdulillah, semuanya lancar.. Pernah ngrasain kuret juga. Khmilan sebelum alya, BO..diusia10 minggu

    ReplyDelete
  11. Sudah lengkap nih, anak lelaki dan perempuan. Semoga anak-anaknya selalu sehat ya mb :)

    ReplyDelete
  12. Dulu pas keguguran berapa bulan bun? Sampai dikuret yah, aku takut bgt denger kata kuret, merinding :D
    untung dlu pas keguguran gak sampe kuret soalnya janin baru 40 hari

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya lupa usia berapa mak tepatnya, tapi kayanya malah kurang dr 40 hari tapi sama dokternya hars kuret

      Delete
  13. Semoga zaidan dan raissa jd anak yg sholeh sholehah, amiinn.
    Yg pelekatan itu koq ngeri y mak...aduuhhhh..pdhal sdh di anestesi tp koq sampek sakitnya terasa gt mak..
    Ngeriiiii...

    ReplyDelete
  14. semoga anak-anaknya sehat terus yah mbak

    ReplyDelete
  15. Aduh, yang kedua dikuret ya Mbak? Nggak bisa ngebayangin rasanya saya.

    Nggak masalah lah, ya, lahiran harus dengan sesar. Yang penting anak dan ibunya sehat. :)

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillaah semua sudah terlewati ya mak, masa2 yang bikin shock itu. Kalau aku agak trauma pas penjahitan mak, karena aku ngalamin pendarahan lumayan banyak, sampai harus dibius total untuk ngejaitnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh, gabisa bayangin mak saat dijahit itu..:(

      Delete
  17. Alhamdulillah, saya sudah mengalami 3 kali operasi caesar untuk melahirkan ketiga putra putri saya. pertama karna gawat janin di usia kehamilan 42 minggu.. kedua karena sungsang melintang diusia 38 minggu dan sudah pembukaan 1.. yang ketiga yang paling santai karena semua sudah terencana karena kedua sebelumnya melalui operasi caecar. Jalan kelahiran apapun yang ditempuh, normal ataupun caecar semua sama-sama perjuangannya. Makasih postingannyayah Mak ^^

    ReplyDelete
  18. amaziiiing ya pas mau punya anak...
    saya ngeri bacanya walau saya seorang laki2....

    ReplyDelete
  19. uwah...jadi ikut nyeri2 gimanaaa mbacanya mak. syukur alhamdulillaah semua sudah terbayar dg hadirnya buah hati yg sehat dan solih solihah.

    ReplyDelete
  20. walapun mengerikan tapi . . .salut bisa menghadapainya itulah wanita .. .luar biasa !

    ReplyDelete
  21. akupun dr awal melahirkan pgnnya HARUS cesar mba :D.. Ada alasannya sih kenapa ga mw normal... tapi aku g pernah nyesel memilih cesar... Dokternya terbukti handal, ga kerasa sakit, dan selesai operasi kita jg dikasih infus pereda sakit ampe 2 hr kan... jd lagi2, ga sakit.. ;) Begitu infusnya abis 2 hr kemudian, ya sakitnya jg udh berkurang dan hanya nyeri2 biasa toh... enak bgt jadinya.. mana abis itu dpt service keramas salon dr RS nya :D Kurang apa coba...

    jd hamil kedua ini , aku udh bilang ke dokternya, mw cesar lg seperti yg pertama :D

    ReplyDelete
  22. Sama Mba, aku anak dua sectio semua, hehee...yang anak pertama harus rehecting, karena jahitannya kebuka sebulan kemudian. Yang anak kedua kena mastitis dan hampir berujung operasi. Alhamdulillah nggak jadi. Punya anak itu perjuangan sekali ya Mba..:)

    ReplyDelete
  23. Seng yaa dengerx mbk aq skrg lg hamil n postingan mbk nii bkin semngat aq ajj
    Ini khmilan q yg kedua . yg pertma pun aq sc mngkin yg ke2 mw sc lg soalx lbh rilex ajj klo sc :-D

    ReplyDelete
  24. Sayabaru mau melahrkan secara sc mbak .. Deg"an deh rasanya .. Masalahnya ini anak prtama saya .. Pengalaman pertama saya .. Saya sc karena minus saya udah terlalu tinggi 13,, dan retina sudah tipis jd bresiko kalo lahir normal . semua saya serahkan sama Allah aja lah .. �� semoga di beri kelancaran dan keselamatan .. Sehat normal .. Amin

    ReplyDelete
  25. saya lagi hamil anak pertama, dua bulan lagi insyaallah debay nya keluar, jadi deg2an mba setelah baca ini..
    Selamat yaa mba, anak2nya lengkap cowok cewek, semoga soleh dan solehah

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...