Monday, October 28, 2013

Kicauan Umi: Kekhawatiran Ibu vs Keingintahuan Anak

Dear diary,

Duuuh..adaaaa saja kelakuan kakak Zaidan yang membuat saya khawatir dan membuat saya berkicau panjang lebar. Kemarin, gara-gara tak tahan sama giginya yang goyang-goyang, si kakak mengambil capitan gorengan untuk mencabut giginya sendiri. Untung ketahuan dan tak lama kemudian gigi goyangnya lepas sendiri. Pada saat yang lain sepulang les ngaji, dengan santainya dia menyodorkan mukanya ke depan knalpot motor orang yang sedang menyala. Langsung deh saya berkicau lagi. Bagaimana kalau kakak terluka dan bla bla bla. Lalu berdiri menantang maut saat mobil lewat depan rumah atau mengejar mobil yang lewat. Saya pun lagi-lagi berkicau. Bagaimana kalau kakak tertabrak, bagaimana kalau mobilnya tiba-tiba berhenti saat kakak mengejar si mobil, bla bla bla. Lalu gelayutan di palang pintu yang menghalangi pintu masuk tiap blok di komplek rumah kami. Kali ini yang berkicau pak satpam hehe.

Dear diary,

Saya tuh sebenarnya nggak galak, nggak cerewet. (Katanya) saya itu kalem, hehe ngaku-ngaku. Tapi setelah punya anak, saya sepertinya 'dituntut' untuk cerewet. Apalagi kakak Zaidan anak yang aktif. Pernah saat belajar sepeda roda dua, karena gregetan melihat dia menggoyang-goyangkan sepedanya kiri kanan dan nengok terus ke arah saya di belakang, bukannya ke depan ke jalanan, saya pun *bla bla bla* berkicau. E tiba-tiba dia bilang, " Uminya dieeeeem.." Langsung saya mingkem. Oiya, maaf ya kak. Mungkin karena uminya ngomong terus, kakak jadi tidak konsentrasi.

Dear diary,

Saya tuh khawatir. Kalau kakak kenapa-napa gimana. Karena umi bertanggung jawab sama kakak. Kalau memang tak bahaya kan umi juga biarin kakak melakukan apa yang kakak suka, seperti menggambar dino besar di ruang makan kita. Tak apa-apa, nanti kalau kakak sudah besar dan tidak tertarik menggambar di dinding lagi, kita bisa cat rumah kita lagi.

Dear diary,

Saya jadi mengerti kenapa ibu saya dulu suka teriak histeris saat saya belajar sepeda, sampai akhirnya melarangnya. Ya, khawatir, seperti umi pada kakak dan adik. Baru-baru ini saya baca artikel Mbak Niken Kusumowardhani berjudul Zina penglihatan, tentang merebaknya video mesum anak SMP di jakarta. O..sedihnya. Meski kakak dan adik baru 6 dan 2 tahun, saya udah khawatiiiir saja. Bagaimana kakak dan adik di masa depan nanti. Dan itulah tugas saya untuk selalu khawatir, selalu menjaga, mendidik kalian. Walau tak pernah sempurna, saya hanya bisa berusaha dan tentu berdoa, karena doa adalah senjatanya orang mukmin. Dan tentu..Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya.

2 comments :

  1. WHuaaaaaa.................sama ya mba, aku juga sejak jadi ibu-ibu cerewetnya poll. padahal aslinya aku cuman khawatir:(

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...