Friday, November 21, 2014

Serunya (Memahami) Bahasa Si Kecil



Saya lupa, kapan tepatnya anak-anak pertamakali bicara, apa kata pertama yang mereka ucapkan. Terlalu ya. Yang paling saya ingat adalah perasaan bahagia luar biasa ketika anak akhirnya bisa memanggil saya umi atau mendekati kata umi, ketika saya bisa mengerti apa yang disampaikan anak dengan bahasa ‘planetnya’. 

Ketika anak pertama (Zaidan) lahir, orangtua saya mengajarkan untuk mengajak anak bicara, walaupun anak yang masih merah itu tentu saja belum bisa bicara. Berbagai bahan bacaan pun mengatakan demikian. Aneh dan geli rasanya merayu-rayu bayi mungil yang cuma bisa jawab dengan senyuman, tangisan dan ocehan tak jelas. Ternyata menurut psikolog Alzena Masykouri M.Psi, kemampuan berbahasa bayi dimulai dari tangisan.

Mengajak bayi bicara merupakan stimulasi agar bayi segera belajar bicara. Apalagi jika yang mengajarkan berkomunikasi itu ibunya sendiri, bayi akan lebih mudah belajar. Karena hanya butuh waktu 24  jam bagi bayi baru lahir untuk mengenali suara ibunya. Penelitian yang dilakukan University of Montreal dan Sainte-Justine University Hospital Research Center memaparkan bahwa ketika ibu berbicara, pusat pengolahan bahasa di otak bayi segera aktif dan responsif (tidak ditemukan reaksi yang sama jika orang lain yang berbicara). “Suara ibu begitu istimewa sehingga bayi mengasosiasikan suara tersebut sebagai bahasa,” ujar kepala peneliti, Maryse Lassonde, Ph.D.

Saya pun berusaha mengajak bayi Zaidan bicara. Kalau kehabisan bahan pembicaraan, saya bacakan dia buku cerita. Saat teman-teman seusia Zaidan sudah bisa memanggil ibunya dengan panggilan ma atau bu, Zaidan belum bisa memanggil saya bunda atau sekedar bun dan da. Sampai akhirnya ibu saya bilang, “Sudahlah panggil umi (dari bahasa Arab, artinya ibu) saja seperti kakak iparmu.” Beliau pun seringkali memanggil saya umi di depan Zaidan. Jadilah Zaidan memanggil saya umi hingga sekarang.

Pada usia 19 bulan, Zaidan sudah punya banyak kosakata yang mungkin hanya saya dan kadang-kadang ayahnya yang mengerti, seperti yang sudah saya ceritakan di note facebook saya di sini. Saya menyebutnya Bahasa Zaidan. Ini dia antara lain kosakata yang Zaidan kuasai:

Ini baby Zaidan. Usianya berapa ya? Kayaknya di bawah setahun deh.

Zaidan kurang lebih 2 tahun usianya

abi = Ambil
Pipis = Pipis
Cucu = Susu
Ayah = Ayah
Nen = Nete
Tuta = Buka
Abu = Ibu
Ai = Air
Tutu = Tutup
Apatu = Apa itu?
Bataw = Bantal
Bobo = Bobo
Buwu = Burung
Pipi = Tivi
Bata = Baca
Tita = Cicak
Dadah = Dadah
Bowa = Bola
Alloh = Awoh
Dudu= Duduk
Nana = Kesana
Tutu = Kesitu
Peda = Sepeda
Tatu = Takut
Apu = Lampu
Bapa = Bapa (Sebutan untuk kakeknya)
Bo = Cebok
Ee = Ee
Bebe = Bebek

Tidak selamanya saya bisa mengatasi keingintahuan si kecil yang begitu besar. Saya pernah membuat catatan di note facebook tentang hal ini, tentang si kecil yang bertanya apa bahasa inggrisnya robot. Saat itu usia Zaidan 2 tahun 7 bulan. Saat menemani saya menjemur pakaian, matanya tertuju pada celananya yang bergambar robot. Zaidan pun bertanya.

“Ummi, itu apa?” Tanyanya.
“Robot” jawab saya.
“Ingggisnya apa (bahasa inggrisnya apa)?” Tanyanya lagi.
“Robot” Jawab saya lagi.
“Inggisnya appaaaa?”
“Robot”
“Inggisnya appaaa, ummi”
“Robot, sayang”

Berkali-kali Zaidan bertanya dan saya jawab dengan jawaban yang sama. Mungkin dia mengira saya sedang mempermainkannya. Karena biasanya dia mendengar kata dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris dengan bunyi kata yang berbeda. zaidan mulai menjerit dan menangis sambil terus bertanya apa bahasa inggrisnya robot. Saya mulai panik. Kalau sudah kesal dia susah berhenti menangis. Bahkan kadang sambil mengehentakkan kaki, memukul, atau melempar barang. Sebagai ibu yang baru punya anak satu dan minim pengetahuan serta pengalaman membesarkan anak, saya tentu saja suka bingung menghadapi situasi seperti ini. 

Sekarang Zaidan sudah 7 tahun lebih, sudah banyak mengkritisi saya, banyak bertanya ini itu, dan kadang senang menulis surat untuk saya. Zaidan sudah punya adik perempuan. Namanya Raissa, 3 tahun. Saya tak sempat mencatat kosakata apa saja yang sudah Raissa kuasai. Raissa suka meniru semua apa yang dilakukan Zaidan, misalnya menirukan gerakan taekwondo. Raissa suka bernyanyi seperti lagu yang ia dengar dari video di youtube. Raissa juga suka memoleskan bedak di pipi seperti saya. Ah satu lagi, Raissa suka memanggil boneka princes dengan sebutan permeses dan sekarang-sekarang kok berubah jadi feses. Hihi..

Raissa, kurang lebih 2 tahun
Waktu begitu cepat berlalu. Anak-anak tumbuh semakin besar. Bahasa yang mereka kuasai pun semakin banyak. Anak-anak memang peniru ulung. Tak hanya bahasa baik yang mereka simpan, kadang bahasa yang kurang baik juga terekam di memori mereka. Saya pun hanya bisa mengarahkan dan tentu saja harus memberi contoh baik pada mereka. Jika tak sengaja mengucap kata yang kurang baik, maafkan umi ya nak. 


Sumber referensi: www.parenting.co.id

22 comments :

  1. anak lg belajar ngomong tuh lucu ya... bahasanya cmn ayah sm ibunya yg ngerti hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..orang tuh suka nany, ngomong apa sih. baru ngerti setelah saya jelasin :)

      Delete
  2. Benar mak usia 0 - 3 th itu daya serap otaknya dlm tahap yg luar biasa ada yg menyebutnya masa keemasan, ada yg menyebutnya masa brilian... makanya kt hrs benar2 menjadi contoh yg baik dlm hal berbicara atau perbuatan...
    Terimakasih ya mak sdh berbagi cerita ttg Zaidan & Raisaa utk meramaikan GA saya...
    Salam peluk cium utk mereka berdua yg caem...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mak..masih terus belajar jd contoh yg baik buat anak

      Delete
  3. ahhh suka ngakak kalau ingat pertamakali mereka bisa bicara. lucu dan menggemaskan, ada maslah dengan balitaku yang kedua dulu, sudah divonis ga bisa bicara sama dokter anak ehh setelah disunat ternyata bawel sampai sekarang alhamdulillah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya mak akhirnya bisa bicara..

      Delete
  4. hihihi.. Zaidan kok mirip dengan anak saya, Mak.. kalo jawaban saya kurang memuaskan, dia bisa tantrum gitu.. dan umminya jadi bingung sendiri :)

    ReplyDelete
  5. Robot bahasa inggrisnya robot... hehehe

    ReplyDelete
  6. terbalik dgn saya mak... saya justru lupa waktu pertama kali anak saya bisa manggil saya, tapi saya ingat ketika anak saya mulai bisa berjalan :)

    ReplyDelete
  7. ah, bahasa anak memang selalu lucu dan menggemaskan...

    ReplyDelete
  8. saya juga lupa kapan tepatnya anak-anak mulai lancar bicara. Yang pasti saya ingat, Nai itu lebih cepat bisa bicara daripada Keke. Tapi, untuk jalan, Keke lebih dulu bisa. Setiap anak emmang berbeda-beda, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya kalo anak perempuan memang lbh cepet bisa ngomongnya ya mak, lbh cerewet

      Delete
  9. Amazing ya kalau diingat lagi "perjuangan" mengenalkan kehidupan pada anak2? Untuk bicara saja beribu cara kita lakukan, bisa jadi sumber tulisan yang tak ada habisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, ketika anak udah bisa bicara bahagianya luar biasa

      Delete
  10. Bener itu Mak, kemampuan berbicara anak amat bagus bila dirangsang dengan kegiatan berbicara, mendongeng, dll. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, walau anak tak sepenuhnya mengerti apa yg kita bicarakan, tapi memori mereka merekam

      Delete
  11. "Ah satu lagi, Raissa suka memanggil boneka princes dengan sebutan permeses dan sekarang-sekarang kok berubah jadi feses. Hihi.." Hihihi, lucunya bahasa anak ya. Rayyaan dulu menyebut mobil dengan 'gica', ntah itu bahasa apa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, suka ada aja bahasanya yg bikin kita senyum2

      Delete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...