Wednesday, December 16, 2015

Kontak Batin Dengan Ibu

Desember, di bulan ini bertaburan status dan meme tentang Hari Ibu. Walau bagi saya setiap hari adalah Hari Ibu, tapi tetap saja saya berhenti sejenak dan merenung tentang arti seorang ibu.

Di hari-hari pertama menikah, ibulah yang sering jadi tempat bagi saya mencurahkan isi hati. Semuanya saya ceritakan dan tanyakan sama ibu. Dia adalah role model bagi saya dalam melaksanakan peran sebagai seorang istri.

Bu, masak ini bumbunya apa. Bu, di rumah banyak kecoa dan tikus diapain ya. Bu, suami sakit obatnya apa ya. Bu, bosen banget di rumah sendiri enaknya ngapain ya. Dan sebagainya, termasuk saat saya mengalami miskomunikasi dan masalah-masalah kecil dengan suami.

“Jangan dikit-dikit cerita masalah rumah tangga sama ibu. Kasian, nanti beliau kepikiran” Kata seorang teman. Memang benar, kalau Za cerita tentang susahnya belajar Bahasa Inggris, saya juga suka kepikiran.

Za & ibu saat menunggu saya melahirkan Ra

“Anak perempuan kalau sudah menikah, semuanya harus atas ijin suami. Bapak pun harus ijin suamimu dulu kalau mau main ke rumah.” Bapak mengingatkan. Memang benar, Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk taat pada suami (selama dalam kebaikan).

“Kamu telah memilih menikah dengan orang yang kau pilih. Maka seharusnya kamu sudah siap dengan segala resiko pernikahan yang akan dihadapi.” Kata ibu saat suatu hari saya cerita tentang masalah rumah tangga. Memang benar, kenapa harus mengeluh jika ini memang pilihan pribadi.

Mendapat masukan seperti itu, saya pun berusaha sedikit mengerem hasrat untuk bercerita macam-macam pada ibu, terutama masalah rumah tangga. Memang semua yang dikatakan orangtua dan teman itu ada benarnya. Masalah itu seharusnya diselesaikan dengan pihak-pihak yang bermasalah, bukan hanya dibicarakan dengan orang lain.

Suatu hari saat sedang mengalami masalah, saya Cuma bisa diam dan menangis. Tiba-tiba saya teringat ibu. Tak disangka, beberapa lama kemudian ibu menelepon dan bilang ia memimpikan saya dan menangis. Ternyata walau jauh, hati kami tetap melakukan komunikasi. Saya pun merasa senang dan meminta banyak doa dari beliau tanpa menceritakan masalah saya.  

Mungkin karena sering menahan berbagai rasa, saya suka gak tahan keluar tangis begitu saja. Seperti saat ibu dan bapak membuatkan syukuran khitan untuk Za, tiba-tiba saja saya nangis begitu shalawat dibacakan. Seperti mengerti perasaan saya, ibu menghampiri, bertanya kenapa, dan ikut menangis. Saya bilang saya gak apa-apa.

Sekarang, insya Allah saya lebih kuat dari waktu dulu. Saya beruntung diingatkan oleh orang-orang yang sayang sama saya. Dengan begitu, mungkin saya makin ‘dipaksa’ untuk hanya curhat sama Allah SWT lewat berbagai ibadah yang saya lakukan. 

Saya belajar untuk lebih dewasa menghadapi masalah. Saya yakin, doa ibu selalu menyertai saya dalam tiap shalat beliau. Saya yakin, doa ibu tiada putus untuk kebahagiaan saya. Seperti halnya saya juga tak putus medoakan ibu.



19 comments :

  1. Ibunya keliatan masih muda ya, Mak. Sukses buat GA nya :)

    ReplyDelete
  2. doa ibu selalu ada walau kit audah punya anak sekalipun ya

    ReplyDelete
  3. Ibu selalu tahu kalau anaknya sedang kesusahan, tapi beliau sabar menunggu kita datang padanya untuk memberi kesempatan pada kita menjadi dewasa.

    ReplyDelete
  4. sebagian besar org sukses, mereka yg dekat dgn ibunya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, moga saya trmasuk yg dekat dg ibu dan sukses jd org baik dan solehah :)

      Delete
  5. Subhanallah ya dimana2 ibu itu selalu nyetrum dan nyambung sama anak2nya. Dulu jaman aku SD kalo asmaku kumat malem2 aku berusaha batuk tak tutupin biar ga denger eh ibuku tetep tau padahal kamarku diatas. Tak tanya kok tau? Berasa ga enak aja katanya
    moga2 aku nanti jg nyambung smaa anakku

    ReplyDelete
  6. Jadi, kalau begitu, mari kita ceritakan kepada ibu tentang hal-hal yang riang gembira aja, biar ngak jadi pikiran buat beliau ;)

    Makasih udah ngeramein GA Sejuta Kisah Ibu di rosimeilani.com
    Pantengin apdetan pesertanya di sini: http://rosimeilani.com/2015/12/06/daftar-peserta-ga-sejuta-kisah-ibu/

    ReplyDelete
  7. kalau saya memang gak terlalu terbiasa langsung bertanya ke orangtua kalau sedang butuh sesuati. Makanya, mamah saya sempat bingung ketika saya lahiran, semua dikerjain sediri. Dibantu suami, ding :D

    ReplyDelete
  8. Ibu memang seperti punya indra keenam ya mba. Mamaku juga gitu.. seakan tahu aja kalo aku lg ada masalah atau sedih

    ReplyDelete
  9. Ibu cantik ya, Mbak.. :D

    Ah iya nih, aku juga lagi jauh sama Mama. Jadi pengen teleponan :'

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...