Pengalaman Naik Mobil Antar Jemput Dari Agent Travel

Model transportasi umum di darat makin kesini makin beragam, tidak hanya bus atau kereta api. Sekarang, Walaupun tidak punya mobil pribadi, orang bisa menikmati naik mobil berbagai merek tanpa memilikinya. Bahkan diantar dan dijemput ke berbagai kota bagaikan si empunya mobil. Bagaimana caranya? Salah satunya yaitu dengan menaiki mobil antar jemput dari agent travel, hehe.

Ya, model transportasi ini sering sekali saya gunakan. Pertamakali saya menggunakannya yaitu saat kali pertama ke luar kota ke Bandung saat SMA di tahun 90-an untuk menghadiri pameran filateli bersama Klub Filatelis yang saya ikuti. Lalu, untuk selanjutnya saya makin sering menggunakannya untuk pergi ke kota dimana saya akan berkuliah, mencari kerja di Jakarta, pulang kampung, dan lain-lain.

Model transportasi ini sering jadi pilihan saya saat akan ke luar kota karena praktis. Saya dijemput dari rumah dan diantar ke alamat tujuan. Buat yang baru pertamakali ke luar kota atau tak mau repot gonta ganti transportasi, jelas akan sangat membantu. Kalau bawa anak tanpa suami, antar jemput seperti ini jadi pilihan tepat. Mau berhenti di jalan karena anak ingin ke toilet pun rasanya tidak sungkan minta tolong supir untuk berhenti sebentar. Jeleknya, memang perjalanan akan semakin lama karena harus menjemput satu persatu penumpang dan mengantarkannya ke alamat masing-masing. Buat yang tidak suka perjalanan lama dan butuh waktu cepat ke alamat kota tujuan,model transportasi ini bukan pilihan tepat.

Satu hal saat menaiki mobil antar jemput dari agent travel seperti ini, kita harus siap berbagi privacy dengan orang lain. Segala hal yang biasanya kita nikmati bersama keluarga di mobil berkapasitas kecil, harus siap kita bagi bersama orang lain. Salah satunya saat tidur di perjalanan. Muka yang nggak enak dilihat saat tidur, pasti dilihat orang lain dong, hehe.

Saya punya beberapa pengalaman yang masih teringat di benak saat menaiki model transportasi ini.

Pengalaman Naik Mobil Antar Jemput Dari Agent Travel


1. Bertemu dengan nenek yang mengasuh cucunya

Saat mengingat ini, saat itu pula saya merasa betapa menyedihkannya saya. Saat itu saya berstatus mahasiswa di Kota Bandung, hendak ke Jakarta mengunjungi kakak saya. Di mobil, ada seorang nenek yang hendak ke Jakarta bersama dua cucunya, satu balita dan satu bayi. Sepanjang perjalanan, sang nenek mengeluh dan bicara sendiri. Betapa menderitanya dia harus mengurus dua anak itu sendirian karena orangtua sang anak tiada. Sepanjang jalan juga, si bayi seringkali rewel dan tak jarang sang nenek marah dan menggoyang-goyang sang bayi.

Yang membuat situasi itu menyedihkan selain keadaan nenek dan cucunya adalah saya dan hampir semua penumpang di mobil yang hanya diam saja melihat pemandangan itu. Dalam hati, tentu saja ada empati yang ada. Selain itu, ada rasa takut juga karena melihat kondisi nenek yang seperti tertekan. Mau menolong, membantu menggendong biar nenek bisa istirahat sebentar, posisi saya sulit di belakang si nenek. Lagipula, saya yang mahasiswa culun saat itu belum pernah menggendong bayi. Orang dewasa yang ada di mobil cuma diam dan geleng-geleng kepala melihat nenek yang merasa depresi dengan cucu-cucunya.

Akhirnya, sepanjang jalan dari kota Bandung ke Jakarta itu saya banyak berdoa dalam hati agar perjalanan cepat sampai serta ennek dan cucu-cucunya sampai ke keluarganya dengan segera. Mungkin jika keadaannya terjadi sekarang di saat saya sudah punya anak dan punya pengalaman memiliki anak, mungkin saya tak akan sungkan dan berani menenangkan nenek dan cucu-cucunya. Ah, pokoknya, semoga kalau di jalan ada sesuatu yang terjadi kita tak hanya diam saja seolah tak melihat apa-apa.

2. Hamil besar dibawa supir ngebut

Ini pengalaman saat saya hamil anak pertama. Saya sempat pulang kampung karena suami lagi pergi dinas lama, lalu saya kembali ke Jakarta dengan menaiki mobil antar jemput dari agent travel. Saya diantar ibu. Kami bernagkat malam hari dari kampung halaman. Sepanjang jalan, supir mobil membawa mobilnya super ngebut, membuat perut besar saya yang sedang hamil sekitar delapan bulanan sempat terlompat-lompat dan saya harus ekstra memegangi perut yang terasa mau melompat. Rasanya, antara ngeri dan ingin tertawa!

3. Bawa Dua Anak Aktif Tanpa Suami

Buat saya, anak itu amanah yang betul-betul harus dijaga, dirawat, dan dididik. Baru dua saja punya anak, Za dan Ra, rasanya luar biasa. Suatu waktu saya menyusul suami yang lagi dinas di Bandung dengan menaiki mobil dari agent travel di daerah Tangerang Selatan. Saat itu anak terkecil masih balita. Saya merasa was-was terus sejak sebelum berangkat karena khawatir akan terjadi apa-apa di perjalanan. Barang bawaan yang sudah dipersiapkan jauh sebelum keberangkatan, ada saja ternyata barang kebutuhan anak yang tertinggal. Beberapa menit sebelum mobil berangkat, anak terkecil malah minta pup. Saat sedang mengurus anak yang kecil, anak yang besar nangis mencari-cari ibunya. Drama deh!

Pengalaman yang terkahir beberapa hari lalu saat saya dan duo Za dan Ra mudik Idul Adha. Kami naik mobil dari agent travel dan duduk di kursi paling belakang. Beberapa kali kepala Za terantuk-antuk membentur badan seorang bapak di sampingnya, karena mengantuk. Dan si bapak juga kelihatannya berusaha menghindar dengan maju ke depan. Mungkin saja terganggu karena dia juga ingin istirahat. Berkali-kali saya tarik badan Za agar bersender ke saya, tapi ya begitulah. Namanya juga mengantuk, tak sadar badan mendarat dimana anak ini.

Bagaimana dengan teman-teman, punya pengalaman yang menarik saat naik model transportasi seperti ini?

Comments

  1. aku nyerah kalau untuk sekarang ama Babam, gak kebayang Babam lompat dari bangku sat ke bangku lainnya sampai bagasi. mungkin kalau udah agak patuh dan anteng aku harus coba

    ReplyDelete
  2. Aku pernah mba naik mobil travel dari Langsa ke Medan. Sepanjang jalan orang ngototan pengen di antar duluan. Padahal harusnya ya berdasarkan rute paling deket ke paling jauh. Akhirnya aku turun di tengah jalan trus lanjut naik angkot ke bandara di Medan

    ReplyDelete
  3. Kalo di indo, aku belum pernah ngerasain naik mobil travel mba. Krn biasanya kita bawa mobil sendiri, atopun sewa mobil di tempat tujuan. Tapi pernah ngerasain naik mobil travel pas di siam rep :D. Kita jalan darat dari bangkok ke siam rep wkt itu. Nah jrak dari imigrasi ke kota siam repnya lumayan jauh. Jadi hrs naik travel. Untungnya 1 mobil ga terlalu rame dan mobilnya jg bersih. Tapiiii supirnya nyupir kayak naik odong2. Pelan bangeeetttt hahahahaha... Padahal jalanan kesana itu luruuuuus, dan sepi mba. Aku ama suami sampe ngomong, "gila, kalo di indo, supirnya bisa ngelatih skill ngebut liat jalan lurus sepi gini" :p.

    ReplyDelete
  4. Aku lebih suka naik kereta, lebih nyaman :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Popular posts from this blog

Alhamdulillah, Saya Sudah 2 Kali Operasi Caesar

Wirda Mansur, Anak Muda Inspiratif dan Nyentrik

Biaya Sekolah Dasar Islam di Bintaro

Telinga Yang (Seperti) Tersumbat

Agar Ayam Matang Tak Berdarah