Wednesday, February 17, 2016

Tips Berwirausaha Sambil Mengurus Keluarga

Tips Berwirausaha Sambil Mengurus Keluarga

Seorang istri memang tidak dituntut untuk mencari nafkah. Namun seringkali karena berbagai alasan, istri harus ikut bekerja. Alasan ekonomi, salah satunya. Tidak ada larangan, karena hakikatnya rumah tangga itu adalah saling tolong menolong antara suami dan istri.

Itulah yang juga dilakukan ibu saya, membantu mencari nafkah untuk keluarga dengan berwirausaha. Ibu membuka warung kelontong di depan rumah. Saya tak tahu alasan ibu berwirausaha, karena saya tak bertanya. Bisa jadi alasan ekonomi. Berapa sih gaji bapak yang seorang guru, kecil. Berbeda dengan sekarang, gaji (sebagian) guru lumayan besar ditambah dengan berbagai tunjangan. 

Ibu berwirausaha mungkin juga karena tradisi. Kakek dan nenek saya pun pedagang. Bisa juga karena tak ada pilihan lain karena ibu Cuma lulusan SD. Pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang lulusan SD di desa kalau tidak bertani ya berdagang. Atau, ibu ingin tetap bisa mengurus keluarga walaupun bekerja, maka ia berwirausaha karena waktunya bisa disesuaikan dengan kepentingan keluarga.

Waktu pertamakali membuka warung, kata bapak hanya bermodalkan beberapa karung bahan makanan seperti beras, tepung terigu dan minyak. Lama-lama, semakin banyak bahan makanan dan barang kebutuhan lain yang dijual. Dari mulai gula pasir, kue-kue, keperluan mandi, sampai minyak tanah dan pupuk. Sekarang, setelah puluhan tahun (lebih dari 30 tahun), warung kelontong masih ada untuk memenuhi kebutuhan orang-orang.


warung ibu saya

Tips Berwirausaha Sambil Mengurus Keluarga Ala Ibu Saya

Wirausaha adalah seorang yang berani berusaha secara mandiri dengan mengerahkan segala sumber daya dan upaya meliputi kepandaian mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih tinggi.

Tidak mudah mempertahankan satu usaha jika kita tidak benar-benar tekun dan tahu ilmunya. Saya melihat ibu memang sudah mengerahkan segala yang ia punya agar usaha tetap jalan terus dan keluarga pun terurus. Inilah tips ibu saya berwirausaha sambil mengurus keluarga, menurut pandangan saya:

1. Bangun pagi buta.

Ibu selalu bangun sekitar jam 2 atau 3 pagi. Beliau solat Tahajud, Baca Alqur’an, lalu mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga, dan pergi ke masjid. Selepas Subuh, ia kadang pergi ke pasar untuk berbelanja barang yang akan dijual di warung. Kalau ibu ke pasar, biasanya yang menunggu warung bapak (kalau tidak pergi) atau saya dan saudara-saudara saya.

Beredar mitos di masyarakat kita kalau tidak bangun pagi nanti rejekinya dipatok ayam. Namun yang sebenarnya terjadi, bangun pagi itu sehat dan menyegarkan. Pagi juga adalah waktu yang didoakan Rasulullah SAW agar ummat beliau penuh keberkahan.

2. Istirahat sebentar di siang hari.

Bangun pagi buta membuat siang hari ibu jadi mengantuk. Ibu biasanya istirahat sebentar di kursi dekat warung. Tidur siang juga sunnah, dianjurkan Rasulullah SAW agar badan kembali segar untuk beraktifitas. Tapi, tak perlu lama-lama tidur siangnya, kalau lama malah bikin lemes dan jadi males. Kalau ibu tidur siang, yang menunggu warung ya siapa lagi, kadang bapak, saya atau saudara-saudara saya. Gantian saja, siapa yang bisa. Tapi, seringkali baru saja ibu terlelap, saya berteriak karena ada pembeli namun saya tak tahu harga barang.

“Miiiiiih, beras sekilonya berapaaaa?”

tips berwirausaha sambil mengurus keluarga
Ra saat usia 2 kurleb tahun-an dan ibu saya
 
3. Multitasking.

Pagi-pagi saat saya dan saudara-saudara saya akan berangkat ke sekolah, ibu menyuapi saya dan saudara-saudara saya satu persatu di warung. Padahal kami sudah SD loh, seharusnya sih bisa makan sendiri ya. Tapi..begitulah, pagi biasanya waktu yang hectic banget. Untuk mendisiplinkan 4 bocah yang tak bisa duduk diam sambil melayani pembeli, tentu agak menguras emosi dan tenaga. 

Sering juga saya lihat ibu menyiapkan bahan makanan untuk dimasak sambil menjaga warung. Begitu ada pembeli, ya ibu melayani pembeli dulu. Pembeli pulang, ibu melanjutkan lagi motong-mototng sayur atau mengupas kulit buah.

4. Berdayakan Orang di sekeliling kita, terutama saudara.

Bermain adalah hak anak. Karena ibu tak selalu bisa menemani saya dan saudara-saudara saya main, maka ibu memberdayakan saudaranya yang kami panggil bibi untuk menjaga kami dan mengajak kami main. Ini sangat membantu ibu agar bisa konsentrasi dalam berwirausaha tanpa diganggu oleh anak-anak yang sebentar-sebentar minta ini dan itu.

5. Libatkan anak dalam pekerjaan.

Saya dan saudara-saudara seringkali dilibatkan dalam menjaga warung, terutama saat ibu harus ke pasar, harus mandi, solat, dan makan. Membantu ibu di warung membuat saya belajar beberapa hal. Saya belajar mengenal uang dan ukuran berat, belajar menghadapi karakter berbagai orang, belajar sabar, dan yang lainnya.

Ibu juga sering membawa saya ke pasar ketika berbelanja. Dengan menaiki angkutan pedesaan warna kuning, saya dan ibu berangkat pagi-pagi, berdesakan dengan penumpang lain. Di pasar, saya seringkali terkagum-kagum dengan gedung ruko yang bertingkat-tingkat. Sampai tercetus dalam benak saya, “Ah, nanti kalau besar saya ingin punya ruko seperti ini”. 

Pulang ke rumah, ibu dan saya kembali menaiki angkutan pedesaan yang kali ini tak hanya penuh oleh manusia, namun juga barang-barang belanjaan. Di rumah, barulah saya bisa lega dari hiruk pikuk pasar sambil menikmati jajanan pasar yang dibelikan ibu.

Ra depan warung ibu saat usianya kurleb 2 tahun-an

6. Memperhatikan kebutuhan Konsumen

Dulu, minuman kemasan botol di warung dijual dalam keadaan biasa saja, tidak dingin. Melihat banyak pembeli yang menanyakan minuman dingin, akhirnya ibu memermak kulkas di rumah ke tukang, menjadi kulkas berkaca khusus untuk menyimpan minuman yang dijual di warung. 

7. Jeli Melihat Konsumen Potensial

Jadi pedagang itu harus siap dengan berbagai resiko, resiko rugi dan orang berhutang. Pernah juga saya mendengar ibu mengeluh dengan banyaknya orang berhutang. Mau nggak dikasih, ya kasihan, tapi kesel juga saat ibu melihat orang tersebut sudah bisa membayar malah belanja sama orang lain. Mudah-mudahan saja rejeki ibu ada terus meski banyak yang berhutang.

Namun untuk konsumen yang satu ini, ibu biasanya tak tanggung-tanggung memberi pinjaman. Mereka adalah orang yang sedang mengadakan pesta, baik pesta sunat atau nikahan. Mereka biasanya mengambil barang dulu di warung ibu, nanti setelah pesta selesai dan mereka mendapat banyak rejeki baru mereka bisa bayar. Sudah menjadi tradisi kan ya kalau pesta di sini, orang yang diundang akan memberi ‘amplop’ pada pengantin nikah dan pengantin sunat. Nah, rejeki yang didapat itu digunakan oleh penyelenggara pesta untuk membiayai pesta.

Itulah tips berwirausaha sambil mengurus keluarga ala ibu saya. Mungkin orang melihat ibu sudah sukses dengan warungnya yang masih berdiri sejak puluhan tahun lalu dengan berbagai barang yang dijual. Termasuk Za dan Ra, anak-anak saya yang seringkali tak mau pulang kalau berlibur di rumah ibu saya. “Enak, di rumah mamih banyak makanan” kata mereka. Namun perjuangan ibu saya sesungguhnya berproses dan tidak serta merta langsung punya warung kelontong selengkap sekarang. 

Dengan kegiatan wirausaha yang dilakukannya, ibu bisa membantu bapak untuk biaya makan sehari-hari. Sehingga bapak bisa fokus mencari nafkah untuk keperluan yang lain seperti biaya sekolah anak sampai saya dan saudara-saudara saya jadi sarjana. Mungkin, berkat bantuan ibu juga dalam mencari nafkah dengan berwirausaha, bapak bisa menabung dan mereka berdua bisa pergi ke Tanah Suci saat saya masih di bangku SMP. wallahua'lam.


“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Semua Tentang Wirausaha yang diselenggarakan oleh Suzie Icus dan Siswa Wirausaha”
  


Sumber referensi:

28 comments :

  1. Keren mba kania, paling salut ibunya bangun jam segitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah-mudahan istikomah beliau dan selalu sehat

      Delete
  2. Semoga ibu selalu sehat Ya, Mak.

    Semoga beruntung giveawaynya

    ReplyDelete
  3. Wah keren pengalaman wirausaha ibunya ya mbakk.

    ReplyDelete
  4. tipsnya bagus tuh, semoga menang ya

    ReplyDelete
  5. sulu waktu kuliah, sanggup banget bangun dini hari, sholat dan bla and bla. Kok sekarang begini ya? ich kudu diubah dan dilanjutkan lagi bangun dini harinya....suamiku kan wirausaha juga...

    ReplyDelete
  6. Salut Mbak sama ibunda. Ulet dan sabar ya Mbak orangnya.
    Sukses ya Mbak ngontesnya :)

    ReplyDelete
  7. Ibunya mbak keren banget, tokonya itu besar lho, mama saya juga buka warung mbak tapi lebih kecil dari warung ibu mbak, segitu aja dia sudah kewalahan dan bangun dini hari banget, keren mbak, salam untuk ibu

    ReplyDelete
  8. slm salut aku buat ibuk dikau ya mbak nia, bangun tdur jam 2, tidur siang sekenanya, bnr2 salut mbk, semangat beliau utk mmbantu bapak bnr2 berbuah manis ya mbak nia, alhamdulillah

    ReplyDelete
  9. Warungnya gede ya mbak...lengkap pula. Mertuaku juga jualan gitu mbak... Kata suamiku...jualan kelontong gitu, meski kliatannya enak..cuma duduk, nunggu pembeli..tapi bnrnya capek, krn pikiran gerak terus..mana barang yang habis..gmn membuat pembeli nyaman, etc. Sukses ya mbak untuk warung ibu n GAnya...

    ReplyDelete
  10. wah sama dengan ibuku. Buka warung di rumah biar bisa sambil jaga anak-anak padahal dia lulusan analis kimia, tp belajar sendiri usaha, sampai warungnya bertambah besar

    ReplyDelete
  11. heubat heubat bgt ibunya mbak...

    sukses ganya ya

    ReplyDelete
  12. masyaAllah ...benar2 ibu multitasking...salam takzim untuk beliau :)

    ReplyDelete
  13. Tips & cerita tentang ibunya inspiratif sekali. Kebayang betapa kuat seorang ibu ya, berwirausaha dan mengurus keluarga. saluut

    ReplyDelete
  14. Subhanallah banget ibunya mb..
    salut banget, pengen banget meniru dan mempraktekan ilmu dr ibunda terutama bangun pagi2 lanjut tahajud..
    semoga ibu selalu sehat ya
    makasih udah ikutan GA nyaa :)
    jadi beras sekilo harganya berapa??? :D

    ReplyDelete
  15. makasih gan infonya dan salam sukses

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...