Thursday, September 17, 2015

Belajar Toleransi, Sejarah dan Budaya di Pura Tirtha Empul

Tulisan sebelumnya:

Perut sudah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan. Di Bali, kami seringkali menemukan patung-patung cantik. Saya tak terlalu mengerti seni, tapi saya yakin dalam proses pembuatan patung-patung itu butuh proses yang tak mudah. Buktinya, hasilnya patung menjadi cantik, terlihat rumit dan detail, tampak seperti asli.

Di jalan menuju tempat wisata berikutnya, kami melewati patung besar dan gagah. Pak sopir menunjukkannya sama kami dan tiba-tiba Za spontan bicara,  “Patung itu bla bla bla…”

Hup, hampir saja saya membekap mulut Za. Untung itu tidak saya lakukan. Saya memilih memotong pembicaraannya dan mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Disitu saya sadar, masih banyak PR yang harus saya lakukan. Saya belum tuntas memberikan pemahaman padanya untuk tidak berbicara sembarangan, untuk menghormati kepercayaan orang lain.

Mudah-mudahan sih pak sopir nggak dengar. Kalaupun dengar, mudah-mudahan ia bisa mengerti kalau yang dikatakan Za itu hanya ucapan spontan anak kecil yang belum terlalu mengerti.



Selain patung indah, kami juga menemukan banyak kebun jeruk. Buah jeruknya warnanya oranye. Kata pak sopir, namanya jeruk masam, tapi rasanya tidak masam. Nah, bingung kan. Anehnya kami tidak menemukan pohon jeruk bali. Bukannya Bali terkenal dengan jeruk bali-nya?

“Ini desa Tampaksiring pa. Di sini ada istana Tampak Siring yang dibangun pada masa Presiden Sukarno.” Kata pak sopir begitu kami memasuki desa Tampaksiring. Tak lama kemudian, kami berhenti di Pura Tirta Empul, tak jauh dari istana Tampaksiring.

Pura Tirtha Empul adalah pura Hindu yang berlokasi di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, yang terkenal dengan air sucinya di mana orang Hindu Bali mencari penyucian. Pura Tirtha Empul dibangun pada 962 M pada jaman Raja Chandra Bhayasingha dari Dinasti Warmadewa (dari abad ke-10 hingga ke-14), di tempat adanya mata air besar.






Air Tirtha Empul mengalir ke sungai Pakerisan. Sepanjang aliran sungai ini terdapat beberapa peninggalan purbakala. Pura ini dibagi atas Tiga bagian yang merupakan Jaba Pura (HaLaman Muka), Jaba Tengah (Halaman Tengah), dan Jeroan (Halaman Dalam). Pada Jaba Tengah terdapat 2 (dua) buah kolam persegi empat panjang dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari Timur ke Barat menghadap ke Selatan. Masing – masing pancuran itu menurut tradisi mempunyai nama tersendiri diantaranya pancuran Pengelukatan, Pebersihan, Sudamala dan Pancuran Cetik (Racun).

Menurut mitos yang ada di masyarakat (mitologi) tentang awal mula terjadinya mata air Titha Empul ini, diceritakan bahwa Raja Mayadenawa bersikap sewenang–wenang dan tidak mengijinkan rakyat untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan untuk mohon keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Setelah perbuatan itu diketahui oleh Para Dewa, maka para dewa yang dikepalai oleh Bhatara Indra menyerang Mayadenawa. Mayadenawa kalah dan melarikan diri hingga di sebelah Utara Desa Tampak siring. Dengan kesaktiannya ia menciptakan sebuah mata air beracun mengakibatkan laskar Bhatara Indra yang mengejarnya gugur akibat minum air tersebut. Melihat hal ini Bhatara Indra segera menancapkan tombaknya dan "air keluar dari tanah" (Tirtha Empul). Air Suci ini dipakai memerciki para Dewa sehingga tidak beberapa lama bisa hidup lagi seperti sedia kala.



Ada beberapa peraturan yang harus dipenuhi pengunjung untuk memasuki pura, yaitu:
  1. Berpakaian adat adat atau memakai selendang
  2. Tidak bercelana pendek.
  3. Rambut harus diikat.
  4. Wanita datang bulan tidak diperbolehkan masuk
  5. Tidak berpakaian basah.
Makanya, sebelum masuk petugas meminjamkan selendang untuk dipakai atau kain untuk mereka yang bercelana pendek.

Di dalam pura, banyak wisatawan yang sedang mandi atau hanya membasuh badannya dengan air yang dipercaya sebagai air suci di pancuran yang airnya mengalir dari salah satu kolam. Warna air kolam tersebut hijau menakjubkan. Di kolam lainnya, puluhan bahkan mungkin ratusan ikan koi yang besar-besar berenang dengan bebasnya.


Halaman dalam pura hanya boleh dimasuki oleh mereka yang akan beribadah. Terlihat beberapa turis sedang beribadah dipimpin pemuka agama setempat. Pada saat itulah, saya berusaha memberikan pengertian sama Za bahwa kita harus menghormati kepercayaan orang lain. Caranya, ya dengan membiarkan mereka ibadah sesuai kepercayaan mereka. Kita juga tentu berharap orang lain akan menghormati kepercayaan kita dan membiarkan kita tenang beribadah.

Entah deh Za mengerti atau tidak. Hal ini tentu butuh proses. Dia hanya terlihat antusias dengan kolam dan bangunan indah di depan mata.

Keluar dari pura, kami melewati jalan yang berbeda dengan saat masuk. Kami melewati kios-kios cenderamata. Harganya sih kayaknya cukup murah. Kaos anak saja dihargai 10 ribu rupiah. Anak-anak sudah merengek-rengek aja mau ini itu. Za mau mainan motor dari kayu. Tapi, mengingat kami masih ada 2 hari di sini, nanti saja belanjanya.



Jalan kecil dengan jejeran kios cenderamata itu berakhir di area parkir. Lalu kami bingung. Mana pak sopi dan mobilnya ya? Saya bawa handphone (lama) suami tapi tak ada kartunya, jadi tak bisa menghubungi pak sopir. Handphone baru suami lagi lowbat, tapi untungnya masih bisa menghubungi pak sopir.

Mau nyelipin review handphone Xiaomi Mi 4i 16GB yang dipakai suami sekarang. Memang keren sih handphone ini. Melalui peningkatan kepadatan energi baterai lithium-ion polymer dengan aplikasi teknologi Polymer Cell 700Wh/, baterai muat banyak untuk memasok daya bagi layar 5 inci Mi 4i. desain ulang pada Mi 4i yang mencakup penggunaan PCB dua sisi dan layar super ramping, memaksimalkan penggunaan setiap sentimeter ruang internal Mi 4i. Hasilnya, body 7.8 mm yang luar biasa tipis tapi memiliki daya tahan baterai sepanjang hari karena memiliki baterai 3120 mAh. Mi 4i juga dilengkapi teknologi Quick Charge yang mampu mengecas sampi 40% dalam waktu satu jam!




Kamera Sony 13MP dan afertur f/2.0 pada Mi 4i menghasilkan gambar yang tajam, artistik, dan mampu beradaptasi dalam segala situasi. Saat pencahayaan kurang, flash two tone Mi 4i menganalisa cahaya dalam ruangan untuk mensimulasikan pencahayaan natural.

Jadi ingat, saat masuk di halaman pura, seorang bapak yang ramah menyambut kami. Dia berpakaian adat bali, menjelaskan tentang pura dan Istana Tampaksiring yang saat ini sering dikunjungi petinggi Negara. Saya pikir, lelaki itu memang petugas di sana. Eh, ternyata dia tukang foto sekali jadi. Dia menawarkan jasanya sama kami. Tapi, karena kami masing-masing bawa smartphone, kami tidak menggunakan jasanya, biar hemat. Apalagi hasil jepretan Xiaomi Mi 4i milik suami sangat bagus, ini salah satunya.



Kelebihan lain Mi 4i diantaranya:
  • Resolusi layar sebesar 1920x1080 sama dengan TV full HD 49 inci.
  • Jumlah pixel sebanyak 441 pixel per inch membuat gambar lebih tajam.
  • Layarnya mampu menampilkan 95% bentang warna NTSC.
  • Viewing angle sebesar 178 derajat membuat semua gambar tetap optimal dilihat dari sudut manapun. Layar lebih besar namun tipis dan ringan berkat teknologi OGS full lamination.
  • Performa 64 bit mampu memproses data 2 kali lebih banyak.
  • Snapdragon 615 dengan 4 core 1.7Ghz dan 4 core 1.1 Ghz untuk multitasking dan menjalankan aplikasi berat.
  • koneksi 4G pada kedua slot kartu SIM, dan support sampai dengan 16 band LTE.
  • 3x lebih cepat dengan Wi-Fi 802.11ac
  • Suara menggelegar dengan Smart PA playback
  • Didesain dengan coating anti minyak dan 5 pilihan warna menarik.

Xiaomi Mi 4i telah mengabadikan sebagian perjalanan kami sekeluarga di Pura Tirta Empul. Saat melihat foto itu, kami akan mengingat tentang kekayaan budaya bangsa, sejarah dan toleransi beragama.

Oh ya, Xiaomi Mi 4i bisa dibeli secara online di blibli.bom. Harganya mulai dari Rp 2, 799,000. Tulisan ini, selain dalam rangka menuangkan pengalaman saat jalan-jalan ke Bali, juga diikutsertakan dalam Review blibli.com. Ikut juga ya!

Sumber referensi:

Tips berwisata ke destinasi yang berhubungan dengan kepercayaan:
Beri pengertian anak untuk menghargai kepercayaan orang lain sebelum ke tempat tujuan. 

  

18 comments :

  1. wah ,,, keren .,.. kpn aku bisa kestu yah ,,,hehe

    ReplyDelete
  2. Jalan" sambil di foto dengan kamera 13 MP itu rasanya...sesuatu hehe

    ReplyDelete
  3. Di bali sy paling suka ke kintamani mak, selain dingin, di restoran yg ada, sambil duduk makan siang kt bs melihat pemadangan gunung dan danau batur dari atas... indah banget.

    ReplyDelete
  4. wah asik bgt jalan2nya..terus foto2 dengan kamera keren..mantab mba

    ReplyDelete
  5. Pas dulu kesana pas lagi datang bulan. Huhuhu... Dan sampe sekarang belum kesampean kesana.

    ReplyDelete
  6. wah keren.. jadi pingin kesna,,hehe

    ReplyDelete
  7. wah berarti harus cek jadwal datang bulan ya kalau mau ke Bali biar bisa masuk ke pura dan mengenal aktivitas di sana... jadi pengen >.<

    By the way hpnya emang bagus ya mbak.. jadi pengen beli juga hhhehehhe
    salam kenal..

    www.piazakiyah.com

    ReplyDelete
  8. Bali cantik dan artistik ya mbak..... Tp aku sering nggak tahan ma bau dupanya klo du obyek wisata model ini.....

    ReplyDelete
  9. Tulisan yang informatif ...
    Variasi antara budaya dan teknologi digabung menjadi satu tulisan ....

    ReplyDelete
  10. pengen kesana, tapi kapan ya -__-

    ReplyDelete
  11. memang ya mbak, kita harus mengajarkan anak sejak dini tentang keanekaragaman budaya sehingga mereka bisa memahami dan menghormati..Anak-anakku juga suka tiba-tiba berseloroh "kurang enak" didengar secara spontan, yang mereka pikir adanya perbedaan dari yang mereka pahami sebelumnya. Tapi menyenangkan ya mba..bisa jalan2 ke Bali bersama keluarga :)

    ReplyDelete
  12. Ah Bali memang selalu menawan untuk dijelajahi ya Mbak Kania. Saya juga rindu main ke pura-pura mereka yang suci. Ngademin perasaan soalnya :)

    ReplyDelete
  13. Waaah senangnya jalan2 tapi banyak yg dipelajari

    ReplyDelete
  14. Wuih seru ya jalan-jalannya. Jadi pengen jalan-jalan juga. Hehehehe...
    Btw, Redmi Xiaomi ini hapenya keren ya. Mupeng dengan kameranya.

    ReplyDelete
  15. Kyaaa,,,, Xiaomi lagi...
    jadi mupeng banget ini bundaa
    kameranya ciamikk dahh

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...