Monday, March 30, 2015

Display Huruf dan Angka Untuk Raissa



Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).
(pendidikankarakter.com)


Saya tidak ingat betul di usia kapan Zaidan bisa membaca. Yang jelas, sebelum masuk Sekolah Dasar, ia sudah sedikit demi sedikit bisa membaca. Saya tidak pernah mengirimnya ke tempat les baca tulis, meskipun ingin. Karena kami harus melakukan penghematan untuk berbagai kebutuhan kami, maka kami –saya dan suami- yang mendorong Zaidan terus untuk bisa membaca.

Waktu itu, saya baru mengajar di Sekolah Alam Bintaro. Setiap guru baru diharuskan membuat display huruf latin dan hijaiyah serta angka sebagai salah satu tugas pelatihan. Kami diberikan masternya untuk dicetak di kardus bekas, bergantian dengan teman yang lain. Saat tiba giliran saya, terpikirlah untuk membuat juga display huruf dan angka untuk anak saya di rumah. Saya buat display dari kertas bekas dan ditempel di dinding kamar Zaidan.

Hampir setiap hari Zaidan minta dibacakan angka dan huruf yang tertera di dinding sampai akhirnya ia bisa membaca sedikit demi sedikit huruf latin dan hijaiyah. Kini, di bangku kelas 2 SD membacanyya sudah lancar. Membaca Alquran pun tinggal menyempurnakan tajwidnya. Alhamdulillah.


Baru-baru ini saya buat display untuk Raissa. Display bekas Zaidan sudah lama dicabut karena robek-robek. Buku yang menyajikan huruf dan angka sih ada. Tapi, terkadang butuh waktu untuk mencarinya. Berbeda dengan display. Setiap hari Raissa lewat ke kamar dan otomatis melihat seluruh isi kamar. Dengan begitu, mudah-mudahan display dapat membantu Raissa mengingat huruf dan angka yang sedang dipelajarinya.

Seingat saya, cara ini pula yang dilakukan DR. Sarmini dalam belajar mengenalkan Alquran pada anak-anaknya sehingga mereka khatam Alquran diwaktu balita. DR. Sarmini memasang display di tempat-tempat yang dilewati anak tentang waqaf, hukum nun mati dan tanwin, dan sebagainya. Seperti kutipan di atas, di usia emas anak banyak menangkap hal yang mereka lihat, dengar dan rasa. Di usia inilah kesempatan besar untuk menanamkan hal-hal yang baik tanpa mengurangi hak mereka.

Sekarang, biarlah dinding rumah kotor dengan coretan dan tempelan. Kelak mereka makin besar toh bisa dicat lagi kalau ada rejeki. Saya Cuma berharap diberi stok sabar yang banyak saja dalam mengasuh anak-anak. Mudah-mudahan anak-anak akan menjadi orang-orang yang soleh dan solehah. Aamiin.


8 comments :

  1. kalau saya, langsung coret2 di tembok, Mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tembok udah penuh juga mak dengan coretan..

      Delete
  2. jadi inget waktu ngajari membaca anak kedua sama ketiga, saya pakai buku belajar membaca tanpa mengeja, metodenya mirip sama iqra'...alhasil mereka sudah lancar membaca saat masuk kelas 1 SD.
    karena tidak bisa dipungkiri, pelajaran kelas 1 SD sudah banyak bacaannya, mau tak mau, ketika masuk SD anak2 harus sudah lancar membaca kalau tak mau ketinggalan pelajaran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muda-mudahan Raiss juga saat masuk SD udah bisa baca :)

      Delete
  3. Nama anak kita hampir sama ya mba, anak saya zaid, sekarang zaid umur 10 bulan, kira2 sejak umur berapa dikenalin angka dan huruf seperti yang mba ajarin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sejak dia udah bisa pegang-pegang buku mba...usia 6 bulanan itu udah bisa loh kan ada buku kain, buku plastik yg gambarnya warna warni

      Delete
  4. anak-anak emang suka warnawarni , jadi biar belajarnya senang harus warnawarni :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...