Friday, September 26, 2014

Saat Lampu Kamar Mandi Dimatikan

Dulu saya ibu bekerja. Saya pernah merasakan betapa tak tenangnya bekerja karena ingat anak di rumah yang tadi pagi minta ikut ibunya. Saat tiba di rumah, waktu seakan tak pernah cukup karena ingin berlama-lama dengan anak sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai. Saat ini saya ibu rumah tangga penuh waktu. Apakah lantas saya merasa cukup waktu dengan anak? Mungkin iya, tapi apakah waktu itu cukup berkualitas jika saya mudah emosi karena perilaku anak?

Pada dasarnya ibu bekerja dan penuh waktu memang sama, Akan mengalami berbagai dilema dan masalah yang harus dihadapi. Di rumah, Mereka sama-sama ibu yang harus mengurus keluarganya, harus menghadapi berbagai huru-hara yang dilakukan anak. Ini hanya sebuah pilihan masing-masing orang. Bagaimana Cara Mereka menghadapi dilema dan masalah lah yang membedakannya.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang ibu bekerja yang tetap bisa berkomunikasi dengan hangat dengan anaknya. Salah satu caranya, Dia selalu menyisipkan catatan-catatan sayang dan penuh menyemangati di bekal sekolah anaknya. Sementara ibu penuh waktu pun kadang butuh bantuan orang lain dalam menjaga anaknya. Misalnya, ketika sakit, akan ke kamar mandi, dan sebagainya.

Di rumah saya pun tak lepas dari huru-hara. Anak sulung saya (Zaidan, 7 tahun) suka iseng. Kalau saya atau adiknya di kamar mandi, ia suka mematikan lampu lalu lari bersembunyi. Adiknya (Raissa, 3 tahun) lalu menjerit-jerit di kamar mandi. Setelah saya atau ayahnya memperingatkan, baru Zaidan menyalakan lampu kembali.

Suatu sore, saya sedang memandikan Raissa sambil menggosok toilet. Klik! Tiba-tiba matilah lampu kamar mandi. Saya yang sedang 'khusyuk' spontan berteriak, "Kakaaaaaaaaaaaaak...!" Lalu saya istighfar dalam hati. Hehe, baru sadar kalau teriakan saya kenceng banget saat lihat muka si kakak bengong. Langsung saya teringat reality show Nanny 911, pada saat anak tidak disiplin diberi hukuman diam selama beberapa waktu. Mengingat Zaidan sudah melakukan ini berkali-kali, saya pikir tak ada salahnya memberi efek jera dengan satu hukuman (ringan). Walau sebenarnya perbuatannya tak seberapa sih dan saya yakin dia cuma main-main, saya hanya ingin mengingatkan bahwa iseng yang berkali-kali membuat orang lain tidak nyaman juga.


"Kakak, diam di kamar umi 15 menit!" Kata saya. Segera Zaidan pergi ke kamar saya. Sambil memakaikan Raissa baju, saya lirik Zaidan. Dia miring-miring di depan cermin, berguling kesana kemari di atas kasur sampai-sampai baju-baju yang sudah saya lipat sebagian berjatuhan. Hihi, ampun deh, saya jadi senyum-senyum. Kasihan juga disuruh diam begitu dia tak tahan. Baru sepuluh menit, saya panggil dia.

"Kakak tahu nggak umi lagi apa?"
"Bersih-bersih"
"Kakak tahu nggak Raissa lagi apa?"
"Mandi"
"Umi sedang kerja, bukan lagi main. Terus kenapa lampunya dimatikan?"
"Cuma main-main.."
"Kalau umi terpeleset, kalau Raissa jatuh, terus harus dibawa ke rumah sakit, bagaimana?"
"....."
"Jadi nanti kalau kakak sedang mandi, boleh ya lampunya umi matikan?"
"Nggak"
"Jadi mau diulangi lagi nggak?"
"Nggak"
"Kalau nanti diulangi mau dihukum apa?"
"Mm...baca buku"

Zaidan terlihat menyesal. Saya biarkan ia melanjutkan kegiatannya bermain. Alhamdulillah, sampai saat ini zaidan belum pernah iseng lagi mematikan lampu kamar mandi. Sesekali iseng mungkin tak apa-apa, agar suasana rumah ramai. Tapi, kalau keseringan jangan ya. Selain membuat orang kesal, takutnya jadi karakter diri.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar

14 comments :

  1. hehehe.....cerita tentang anak memang lucu ya mak, kadang juga ngeselin...tapi itulah anak-anak. Sebagai orang tua kita harus pandai memilah-milah mana yang baik atau mana yang buruk untuk dilakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak..dunia mereka penuh warna. Kita harus bs nahan diri utk tak marah2 saat jiwa qt sendiri lagi tak fit..

      Delete
  2. Pinter nih Mak Kania cara ngasih hukuman sayang buat Zaidan :) Saya suka nyari cepetnya aja, pas marah kalau gak diam ya teriak-yeriak deh, hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung jg mak..sy jg kdg marah kdg mendiamkan. Kalo sy diam, Raissa pasti bilang, " umi maah?" Sy jg msh terus belajar nih..

      Delete
  3. ah.. anak-anak
    kangenn deh masa-masa itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga suka kangen masa kecil. Cara memgobatinya dengan menuliskannya mba..

      Delete
  4. Alhamdulillah Zaidan tdk melakukan hal itu lagi ya...
    anak saya juga sama mak, suka usil dan iseng, dan biasanya adiknya yg jadi korban keisengannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama dong mak...batu dua tapi udah rameee

      Delete
  5. wah kedua anak saya baru iseng melakukan itu mak...klo mamanya mandi suka iseng lampunya di matiin hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh anak2...mudah2an ga teriak2 ky saya ya mak..

      Delete
  6. eh sama mak. saya jg sering pk kata2 "kalau mas/adek dibales digitun boleh ya?" n lgsg dijawab "nggak"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak sebenarnya mereka tau ya kalo diisenginga enak..terbukti mereka juga gamau diisengin...:)

      Delete
  7. hehehe
    mirip kedua anak saya mbak
    sering saling gara matiin lampu kamar mandi
    salam :-)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...