Wednesday, September 3, 2014

Asa Teu Beungeutan

Asa Teu Beungeutan. Orang Sunda pasti tahu istilah atau peribahasa ini. Dalam Bahasa Indonesia, Asa Teu Beungeutan sama dengan seperti tidak punya wajah. Artinya, malu sekali. Peribahasa ini mungkin bisa mewakili satu pengalaman masa kecil saya yang cukup memalukan. Tidak hanya saat itu, sekarang kalau ingat atau ketemua orang yang berhubungan dengan peristiwa ini saya jadi malu sendiri. Ini dia ceritanya.

Puluhan tahun lalu...

Saya masih kecil, mungkin usia pra sekolah. Saya suka shalat di mesjid kecil di belakang rumah dimana ayah saya jadi imam shalatnya. Sedari saya kecil, beliau memang agak keras kalau soal ibadah. Begitu adzan berkumandang, saya dan semua keluarga harus segera ambil wudhu dan berangkat ke mesjid. Pernah satu saat saya dan adik sedang asyik bermain. Karena kami tidak lekas memenuhi ajakannya untuk shalat, beliau mengangkat tangannya ke atas seolah hendak memukul. Kami tahu beliau hanya menggertak, karena tangan itu tak pernah benar-benar mendarat di pantat kami. Kami pun langsung 'ngibrit' untuk shalat sambil terkikik.

(Ini Raissa saat shalat di mesjid kecil di belakang rumah orangtua saya Ramadhan kemarin)

Setiap shalat di mesjid, saya akan memilih barisan belakang supaya bisa cepat 'kabur' untuk main. Nakal ya, kan namanya juga anak-anak. Banyak sekali tingkah saya dan teman-teman selagi shalat yang menurut kami seru tapi sebaliknya menurut orang lain. Bisik-bisik lalu tertawa, kadang saling dorong, dan sebagainya. Teguran para orangtua hanya sebentar kami dengar. Baru setelah imam shalat menegur keras, kami mulai 'menciut'.

Satu saat, saya suka mengibaskan mukena ke belakang saat duduk tahiyat akhir. Maksudnya, supaya aurat kaki tertutupi. Teman-teman mengikuti tingkah saya, mengibaskan mukena ke belakang lebih keras sehingga membentuk gelembung untuk sesaat. Setelah itu kami pasti tertawa-tawa pelan. Di saat yang lain, saya suka bercanda dengan menepuk kepala teman yang sedang sujud tepat di barisan belakang saya. Setelah shalat selesai, kami akan tertawa-tawa melihat raut bingung teman kami yang menerka-nerka siapa yang menepuknya tadi. Seketika candaan itu menjadi tren.

Satu saat, seperti biasa saya shalat di mesjid dan bercanda dengan teman-teman. Saat semua jamaah shalat khusyuk bersujud, dengan semangat 45 saya bangkit menengok ke belakang. Saya tepuk sebuah kepala yang tengah sujud di belakang saya. Lalu secepat kilat saya bersujud seperti yang lain sambil menahan tawa. Pasti teman saya itu bingung siapa yang menepuknya, atau bahkan dia juga akan ikut tertawa bersama.

Shalat pun usai. Saya menengok ke belakang dengan antusias. Olalaaaaa. Ternyata yang duduk di belakang bukan teman saya, melainkan orangtua teman saya. Posturnya memang mungil, jadi saya mengira dia teman saya. Dia menatap saya, langsung ke mata saya. Matanya seolah berkata, "kamukah yang melakukannya?" Saya sungguh malu (anak kecil juga punya rasa malu kan..). Saya tak berani menatapnya lama-lama. Mulut saya pun terkunci, tak tahu harus bilang apa.

Saya tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun. Sepertinya peristiwa ini jadi rahasia saya dan orangtua sang teman. Sejak itu, setiap kali bertemu dengan dia saya harus menahan malu. Asa teu beungeutan. Beliau sendiri sih biasa saja. Sejak itu juga saya tak berani lagi bercanda saat shalat. Kepada anak-anak, saya juga seringkali mengingatkan agar tak banyak bercanda saat shalat supaya mereka tidak mengalami peristiwa yang memalukan seperti yang saya alami. Selain itu, bercanda saat shalat bisa mengganggu konsentrasi orang lain. Yang paling utama, bercanda saat shalat tentu tidak disukai oleh Allah SWT. Allah SWT lebih suka mereka yang khusyuk dalam shalatnya. Semoga anak-anak bisa belajar dari pengalaman saya.

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

11 comments :

  1. Namanya juga anak-anak mak :p
    Raissa mau ya dipakein mukena gitu..Alia mah masih susah, risih kali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang mau kadang ngga mak..kalo abis solat pasti langsung dibuka:)

      Delete
  2. ayo lestarikan budaya malu di negri kita, jangan malu-maluin... eh nyambung nggak ya sama yang diatas..hehehe :D SUKSES YA MAK

    ReplyDelete
  3. hihihi... memalukan... sekarang udah ga dilakukan lagi kan... hehehe

    ReplyDelete
  4. Hihihi....anak2 tu adaa aja kelakuannya ya mak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak.kenapa yg saya ingat yg ini ya mak.mungkin sebagai pengingat ya supaya saya jg bisa mengingatkan yg lain jgn berlwbihan saat bercanda. Apalagi saat shalat..

      Delete
  5. Mohon lengkapi semua syaratnya ya, Mbak. Terima kasih.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...