Sunday, June 29, 2014

Belajar Jadi Mom Traveller

Awalnya saya khawatir untuk membawa Zaidan dan Raissa ke luar kota tanpa ayahnya anak-anak. Terbayang bagaimana nanti kerepotannya karena Raissa masih sering minta digendong. Zaidan walau sudah lebih mandiri, dalam hal tertentu masih butuh bantuan. Belum lagi ransel berisi pakaian lagi yang lumayan bikin punggung pegal. Timbul berbagai tanya tanpa jawab di benak saya.

Bagaimana kalau nanti Zaidan lari kesana kemari tanpa bisa saya kontrol dan menghilang dari pandangan? Pernah terjadi sebelumnya saat berkunjung ke rumah kakak di Ciledug. Zaidan menghilang selama kurang lebih sepuluh menit. Saya dan keluarga kakak mencari kesana kemari dengan panik. Akhirnya ia ditemukan di rumah seorang warga tengah menangis karena lupa jalan pulang.

Bagaimana kalau Zaidan tak berhati-hati dan terluka? Saat mudik lebaran tahun lalu, Zaidan sempat jatuh ke lubang kotoran tetangga karena asyik mengejar ayam. Badannya penuh kotoran dan bau. Kakinya penuh luka karena tertusuk paku. Bagaimana kalau dalam waktu bersamaan Zaidan dan Raissa butuh bantuan saya dan tak ada yang mau mengalah? Rrrrgh..kepala saya pusing memikirkannya. Maka, saat ayahnya anak-anak bertanya, apakah saya akan menyusul ke tempat ia dinas di kota kembang, saya berfikir agak lama.


Awal Juni kemarin, kebetulan Zaidan sudah menyelesaikan ujian akhir semesternya. Zaidan begitu antusias ingin jalan-jalan ke kota kembang menyusul ayahnya. Ya, setiap ayahnya dinas ia selalu ingin ikut. Rasanya, tak tega untuk menghapus raut gembira di wajahnya.

Baiklah, akhirnya saya menyanggupi untuk menyusul ayahnya anak-anak. Toh, Bintaro-Bandung hanya 3 jam-an. Toh, tak banyak naik turun kendaraan karena kami akan naik travel. Toh, ayahnya akan menjemput di pool travel di kota kembang. Saya berusaha menyingkirkan kekhawatiran dan mengedepankan rasionalitas.

Begitu Zaidan pulang dari sekolah jam 13.30, saya langsung mengemas pakaian dan menyiapkan anak-anak. Zaidan membawa sendiri pakaiannya di tasnya sendiri. Lumayan, membantu meringankan beban saya. Tahu kan ya, kalau bawa anak-anak jalan itu harus selalu siap dengan alat tempur seperti baju ganti, air minum, snack, dan sebagainya. Anak-anak sudah dandan, bekal sudah siap, giliran saya yang bersiap.

Sebelum taksi datang, saya baru sadar bahwa diaper Raissa tinggal satu yang dipakai saat itu. Mau beli di minimarket terdekat sudah tidak memungkinkan. Ya sudah, berharap di dekat travel ada yang menjual diaper.


Taksi datang dan membawa kami ke pool travel. Di jalan ternyata macet. Saya sudah khawatir saja akan ketinggalan travel. Namun Zaidan dan Raissa tetap bergembira. Mereka bertanya ini apa dan itu apa ketika melihat ke luar dari jendela mobil taksi. Perjalanan semakin lama karena perempatan yang biasa saya lalui menuju travel ditutup. Taksi harus balik arah dari belokan yang lumayan jauh. Saya mencoba tetap tenang sebelum akhirnya kami sampai juga di pool travel. Sayangnya (lagi), voucher taksi milik ayahnya anak-anak tak bisa dipakai karena ternyata biaya taksi lebih besar dari biasanya. Mm..nasib.

Sambil menunggu travel berangkat, saya berkeliling di area ruko tempat travel itu berkantor. Masa tak ada satu pun penjual makanan/minuman yang buka. Apalagi penjual diaper. Akhirnya kami hanya mendapatkan sebungkus pop corn dan sebotol teh manis untuk teman ngemil selama perjalanan. Urusan diaper? Saya berdoa semoga Raissa bisa menahan pup nya sampai kamar mandi.

Tiba-tiba, lima belas menit sebelum berangkat ke kota kembang, Zaidan mau pup. Saya mengantarnya ke kamar mandi tak jauh dari kantor travel. Untungnya Zaidan sudah bisa bersihkan sendiri kotorannya. Saya hanya membantu membersihkan jika ada yang bercecer di lantai dan menungguinya sampai selesai. Lima menit sebelum berangkat, giliran Raissa yang pup. Sayangnya, ia sudah tak tahan dan pup di celana. Wah, lengkap deh. Salah satu alat tempur saya habis, diaper. Saat kembali dari kamar mandi, Zaidan menangis di luar kantor travel karena saya terlalu lama membersihkan Raissa. Alhamdulillah, dia terlihat lega melihat saya.


Mobil minivan dari sebuah travel jurusan Bintaro-Bandung pun akhirnya membawa kami pergi. Saya tidurkan Raissa dan Zaidan agar mereka bisa istirahat. Dan tentu saja agar tak ada drama muntah atau ingin pup lagi. Syukurlah, karena memang lelah mereka pun banyak tidur selama di perjalanan.

Tiga jam sudah minivan itu membawa kami. Akhirnya kami sampai di kota kembang lepas Isya. Di sana ayahnya anak-anak sudah menunggu untuk membawa kami ke sebuah hotel di Jalan Juanda. Awalnya saya khawatir ini dan itu, namun akhirnya saya bisa melewati perjalanan dengan anak-anak tanpa banyak kesulitan. Yeaaay. Drama-drama kecil seperti macet, anak ingin ini itu, anggaplah sebagai pembelajaran untuk perjalanan selanjutnya. Ya, saya perlu belajar terus menjadi momtraveler yang andal agar anak-anak tak perlu terlibat dengan kekhawatiran-kekhawatiran saya.

Tulisan diikutsertakan pada Lomba Blog Nubie Traveller: Awal-mula


8 comments :

  1. Waaahh mba, hebat yaaah. Semoga di perjalanan-perjalanan selanjutnya sudah punya jurus2 jitu yaah, karena belajar dari yang sebelum-belumnya hihi Raissa dan Zaidan lucuuuu banget sikhhh :))

    ReplyDelete
  2. Hebat mba. Kayanya nanti kalau udah gede mereka ketagihan tuh buat traveling kemana-mana, ngikutin mamahnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya..mudah2an dengan banyak jalan jadi banyak hal yg bisa disyukuri dan tambah kuat:)

      Delete
  3. Hebat mak, bisa bawa anak dua dalam perjalanan bintaro bandung. Saya aja bawa Alia sendirian masih khawatir banget :p jadi kemana-mana bertiga sama eyangnya. Raissa mau ya dipakein kerudung gitu, Alia masih susaaah banget :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu bisa karena kepaksa mak..mau kalo pergi dipakein kerudung tapi ya kadang di jalan dibuka :D

      Delete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...