Wednesday, May 14, 2014

Teguran Kecil

Siang itu, smartphone saya berbunyi. Sebuah pesan whatsapp dari bu guru wali kelas Zaidan masuk. Ia mengabarkan bahwa di sekolah Zaidan menangis karena buku text dan workbook Bahasa Inggrisnya tidak dibawa sehingga Zaidan kesulitan belajar. Bu guru memberikan pesan agar saya lebih menguatkan Zaidan di rumah.

Deg, seperti ada panah yang menusuk hati saya. Pedih, merasa bersalah. Merasa turut mengalami apa yang dirasakan Zaidan. Waktu kuliah saya juga pernah merasakan kesulitan yang sama dengan materi kuliah. Nebeng terus ke teman kok ya nggak enak, apalagi ke dosen. Alih-alih membeli buku yang tebalnya seperti bantal, saya memilih mem-fotocopy si buku supaya lebih murah. Alhamdulillah nya, diijinkan dosen.

Apa yang menghalangi saya sehingga saya lupa mengingatkannya membawa buku pelajarannya? Padahal (biasanya) melihat jadwal pelajaran di sekolah besok hari selalu rutin dilakukan setelah shalat maghrib.

"Jika ingin sukses, maka kamu harus fokus"

Kata-kata dari sebuah artikel yang dulu saya baca kembali terngiang. Saya merasa telah gagal sebagai ibu hari itu.

Mungkin kelihatannya sepele, hanya ketinggalan buku. Tapi bisa jadi buat Zaidan ini adalah hal yang besar. Karena itu, dia jadi sedih, tidak konsentrasi dan yang pasti sulit mengikuti kegiatan belajar. Saya ingat, dua hari sebelumnya Zaidan sakit dan tidak masuk sekolah. Jadi saya sedikit melonggarkannya dalam hal belajar. Mungkin masa pemulihan ini juga yang membuatnya sedikit sensitif di sekolah dan menangis.

Saya mencoba instrospeksi. Ya, bisa jadi saya sedang kurang fokus. Seharusnya saya terus menerus mengingatkannya apa yang hendak dibawa ke sekolah besok. Karena di usianya yang masih tujuh tahun, dia masih belum punya inisiatif sendiri untuk itu. Kecuali pada hal yang sangat disukainya, seperti pada saat hendak mengadakan trip di sekolah. Ia hafal apa saja yang musti dibawa. Kebiasaan baik yang terus menerus Insya Allah lama-lama akan melekat menjadi kebudayaan yang baik. Tentu tidak terjadi begitu saja. Orangtualah yang bertugas membiasakan kebudayaan baik itu.

Saya menarik nafas panjang....Hhhh... Wajah Zaidan masih merah dan berduka saat turun dari mobil jemputan sekolah. Saya bimbing tangannya dan ajak dia ngobrol, menghibur hatinya, membahas masalahnya. Setelah itu, wajahnya sedikit cerah. Bahkan dia berjanji mendengarkan saya untuk berhenti jika waktu main gadgetnya habis.

Hhh...memang ada kalanya dengan bicara bisa melegakan hati. Bicara yang positif tentunya. Ternyata, selama ini mungkin saya kurang fokus bicara dengan keluarga kecil saya. Bicara dari dapur dengan kesibukan memasak sementara lawan bicaranya ada di kamar lagi, tentu berbeda jika bicara dengan tubuh berdekatan dan mata saling menatap sayang.

Atau bisa jadi kegiatan saya yang lain yang menyebabkan saya lalai, misalnya kegiatan ngeblog ini. Bukankah pada awalnya saya hanya ingin bersenang-senang saja dengan blog, mengalihkan luka dan jenuh menjadi Buah karya? Mungkinkah saya harus hiatus? Atau mungkin saya harus banyak mengurangi waktu saya ngeblog? Tanya ini mencari jawabannya.

Ah, Zaidan. Maafin umi ya. Terimakasih atas Teguran kecil ini.

Umi, fokuslah dengan tugas utamamu jika ingin mereka yang kau cintai menjadi sukses. Karena kesuksesan mereka adalah kesuksesanmu. Bisik saya lirih, pada diri sendiri.

2 comments :

  1. Anak memang yang paling utama mak, tapi bukan berarti mak gak boleh meluangkan waktu untuk diri sendiri (seperti ngeblog), ini cuma soal manajemen waktu aja ;) ayo, diakal-akali lagi mak supaya semua berjalan dengan baik.. Jangan terlalu merasa bersalah mak, jadiin ini sebagai pembelajaran aja.. kan seperti yang mak bilang, ini teguran kecil pasti bisa diperbaiki :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiiiiiih banget masukannya mak:) sangat berarti..

      Delete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...